Ketika teknologi tak perkasa lagi: Pengalaman memberi training motivasi para penyandang cacat

Pada tanggal 31 Juli 2009 saya diundang untuk memberikan motivasi pada Rakernas Persatuan Penyandang Cacat Indonesia (PPCI) di Asrama Haji Bekasi. Bayangan saya sebelum saya tiba di lokasi, karena pesertanya adalah para pengurus PPCI se Indonesia, maka kira-kira pakem training standard dengan musik, film, teriak-teriak, meditasi, sedikit permainan stage hypnotist, bisa saya terapkan.

Tiba di lokasi, saya ditemui oleh mas Gufron Sakaril, teman lamaa saya yang jadi Humas di Indosiar. Beliau adalah salah seorang penyandang cacat yang jadi pengurus PPCI. Saya kagum dengan prestasi beliau, meskipun menyandang cacat, tapi prestasinya hebat. Saya juga salut dengan Indosiar yang bisa menerima mas Gufron sebagai Kepala Humasnya.

Nah, masalahnya begini. Ketika saya dikenalkan dengan para peserta, saya terkejut sekali, karena mereka menyandang cacat yang berbeda-beda. Ada yang cacat anggota tubuh, ada yang cacat penglihatan, ada yang tuna rungu, ada yang tuna wicara, ada yang terbelakang, dan bermacam-macam lainnya.

Maka terpaksalah otak diputar untuk mencari pendekatan yang bisa diterapkan pada kondisi yag sangat heterogen seperti ini. Bayangkan saja, musik maupun sound system caggih nggak mempan untuk yang tuna rungu, demikian juga kalimat-kalimat dan teriakan-teriakan motivasi. Film yang inspiratif yang bisa membuat orang menangis atau bertepuk tangan, nggak bisa dilihat oleh pesert yang tidak bisa melihat. Gerakan-gerakan permainan, tarian, dan aktivitas fisik tidak bisa dilakukan oleh peserta yang cacat anggota badan. Wah, piye iki….?

Akhirnya saya menggunakan teknik motivasi yang paling generik, yaitu berpusat kembali hanya kepada trainer, sehingga semua peserta bisa ikut aktivitas selama sehari penuh tanpa ada satupun yang beranjak meninggalkan tempat. Terbukti bahwa prinsip dasar para trainer bahwa komputer, layar, musik, dan berbagai teknologi hanya aksesoris saja. Seorang trainer sejati harus bisa hebat tanpa itu semua, karena alat utama dari trainer sejati adalah dirinya sendiri.

Di akhir acara, peserta menyalami dan memeluk saya,bahkan ada yang menangis, karena baru pertama kali mendapat motivasi hidup yang luar biasa katanya.

Berikutnya, panitia langsung membook saya untuk memberikan motivasi di pertemuan internasional penyandang ccat di Bngkok akhir tahun ini. Wah? Tambah lagi problemnya deh, yaitu kultur dan bahasa. Kalau cuma bahasa Inggris  mah gampang karena sudah seperti bahasa ibu saya saja, tapi peserta dengan bahasa ibu lainnya bagaimana ya nanti? Ya udahlah, biar nanti sajalah dipikirkan….

Pengalaman dengan kesurupan

kanjuruhanMasih di bulan puasa, pada tanggal 21 September 2008, saya diundang untuk memberikan motivasi pada mahasiswa baru Universitas Kanjuruhan, Malang. Di universitas ini saya tercatat sebagai Guru Besar Luar Biasa dan anggota Dewan Kurator. Training ini setiap tahun saya lakukan dalam rangka program orientasi mahasiswa baru sejak tahun 2006, bukan hanya di Universitas Kanjuruhan saja, tetapi di berbagai universitas di Indonesia.

Nah, pengalaman training kali ini unik. Bukan soal teriak-teriak di bulan puasa yang sudah bisa saya atasi dengan teknik seperti yang telah saya ceritakan di sini, tetapi terjadinya fenomena kesurupan…..what….kesurupan?….yes, benar, k-e-s-u-r-u-p-a-n.

Seperti biasa dalam training “We are the champions” saya ada sesi kontemplasi. Dengan teknik hipnosis, saya bawa 2000an mahasiswa untuk mengingat kembali perjalanan hidup mereka dari lahir sampai mereka menjadi mahasiswa, terutama hubungan dengan ke dua orang tua mereka. Yang pernah ikut training saya memberi label sesi ini dengan sesi “nangis-nangis” gitu loh….Dan memang, seperti biasa, hampir sebagian besar peserta menangis, bahkan ada beberapa yang histeris.

Nah, ceritanya, dari ratusan peserta yang histeris, ada sekitar 50an yang histerisnya luar biasa, sampai (sepertinya) kesurupan.

Ketika sesi selesai, puluhan mahasiswa masih dalam kondisi “kesurupan” ini. Maka acara saya skors, dan mulailah tim medis turun untuk menangani mereka. Ada yang sebentar saja sudah dapat diatasi, ada yang lama. Tetapi sampai selesai acara waktu break sholat dhuhur ternyata masih ada sekitar 15an yang masih kesurupan. Well, benar, kesurupan, karena mereka berteriak-teriak dan mengamuk dengan kekuatan yang luar biasa.

Wah, saya jadi bingung nih. Koq bulan puasa begini masih bisa kesurupan ya?

Karena tim medis belum berhasil mengatasi, maka terpaksalah sang trainer ini turun tangan sendiri. Berbagai cara saya gunakan, mulai pakai tenaga dalam yang dulu saya pelajari waktu di dunia persilatan, Reiki, baca ayat Qursyi, pakai ketok-ketok ala EFT, dan macam-macam jurus terpaksa saya gunakan.

Ada yang dengan tenaga dalam yang saya salurkan via telapak kaki mereka terus bisa disadarkan, ada yang harus pakai Reiki baru bisa, ada yang pakai tappin ala EFT baru bisa, ada yang dibacakan ayat Qursyi sambil “dipotong” lehernya pakai telapak tangan, dan macam-macam lah.

Selain itu dipanggil juga seorang Kyai yang kemudian ikut menangani, terutama kasus-kasus yang berat.

Akhirnya, semua bisa diatasi, hanya tinggal dua orang yang masih tertawa terbahak-bahak dan mengamuk. Satu laki-laki satu perempuan. Nah, saya dengan pak Kyai bagi tugas, dan saudara-saudara…tentu saja saya pilih yang cewek donk.

Maka mulailah semua jurus dan semua ilmu dikeluarkan, eh…tenyata nggak mempan. Ketika dibacakan ayat Qursyi, ternyata si mahasiswi, yang cewek ini malah bisa membaca dengan hafal, dan suaranya suara laki-laki (cowok). Wah, saya yang tadinya agak kurang percaya sama yang gini-gini, ternyata harus menyaksikan dan berurusan dengan hal-hal beginian.

Karena semua jurus ternyata gagal total, sama minta pak Kyai untuk turun tangan, eh…nggak berhasil juga. Si mahasiswi tetap ngamuk dan berteriak-teriak.

Akhirnya saya coba jurus lain dari ilmu NLP, ya benar, ilmu NLP. Saya coba berbicara dengan si mahasiswi yang kesurupan cowok ini. Saya ajak ngobrol alias berdialog.

Dia bilang asalnya dari Mataram, wah, kaget juga saya karena seminggu sebelumnya saya dari Mataram, jangan-jangan ikut saya dia…sereemm amat…Alhamdulillah ternyata tidak, dia memang tinggal di dalam aula tempat acara motivasi sudah lama katanya, sejak sebelum gedung tersebut dibangun.

Saya tanya juga kemapa koq ganggu mahasiswi saya, dia menhgatakan bahwa dia marah karena si mahasiswi waktu histeris tadi melemparkan kursi dan mengenainya.

Wah, kalau begini saya pikir masalahnya sederhana saja. Maka saya bilang saya minta maaf atas kelakuan mahasiswi saya tadi ya, dan kasihan dia sudah sangat lelah. Apa jawabnya?

“Nah, dari tadi kalau minta maaf kan selesai masalahnya, pak profesor nggak usah pakai macam-macam tenaga dalam segala”, katanya. Wah, kaget lagi saya, koq tahu pakai tenaga dalam.

“Udah ya, tolong kasih tahu mahasiswa-mahasiswanya pak profesor, lain kali sopan dikit lah, jangan brangasan”, lanjutnya.

Saya bilang, “Iya deh, nanti saya bilang mereka, sekali lagi saya minta maaf ya”.

Akhirnya dia bilang “Baik, saya akan pergi, tapi diiringi sama shalawat ya….”. Ketika dibacakan shalawat, tubuh si mahasiswi ini terasa menjadi dingin dan lemas. Beberapa saat kemudian dia sadar kembali.

Habis peristiwa ini saya jadi ingat jagoan favorit saya ketika SD dulu dari karya mbah Kho Ping Hoo, yaitu Bu Kek Siansu (jagoan tak terkalahkan), yang bisa mengalahkan jago-jago silat jahat dengan kelembutan dan maaf. Dalam bahasa Jermannya, “suro diro joyo ningrat, lebur dening pangastuti”, yang terjemahan bebasnya adalah “kekuatan dan kekerasan apapun akan kalah dengan kasih sayang dan kelembutan”

Kekuatan visualisasi: Training di bulan puasa

Tanggal 16 September saya diundang oleh pak Lalu Darmawan, Direktur Akademi Manajemen Informatika dan Komputer (AMIK) Mataram dan Akademi Sekretaris Mataram untuk memberikan training motivasi “We are the champions” bagi mahasiswa baru. Waduh….awalnya bingung juga, soalnya pas lagi awal-awal puasa. Nggak kebayang gimana nanti teriak-teriak sehari penuh dalam keadaan puasa.

Bagi saya memang biasa makan sedikit, sehingga faktor lapar mungkin nggak terlalu masalah. Tetapi bagaimana dengan faktor haus, karena sehari penuh, dari pukul 08.00 sampai pukul 17.00 harus berteriak-teriak dengan keras yang biasanya diikuti dengan tenggorokan kering alias haus. Biasanya saja kalau trainings emacam ini paling tidak 5 botol Aqua ukuran sedang pasti habis untuk minum selama training. Tapi karena namanya motivator, ya nggak bolehlah menyerah, malu donk……….Maka saya sanggupi saja training tersebut.

Trainingnya diselenggarakan di ballroom Hotel Lombok Raya. Hotelnya cukup bagus, dengan sound system kualitas atas. Konon menurut pak Lalu Darmawan, sound system ini yang biasanya dipakai oleh para pejabat tinggi Jakarta dalam acara-acara mereka. Saya sempat diskusi dengan pemilik sound system tersebut pada malam hari sebelum acara training ketika beliau menginstall sound system tersebut. Weleh, ternyata memang beliaunya hobi banget soal sound system. Saya lihat peralatannya memang dari merek kelas atas yang harganya ratusan juta. Pantes bagus banget suaranya. Maka dengan peralatan yang begini bagus makin yakinlah biar berteriak-teriak dan berloncat-loncatan seharian nggak bakalan capek.

Waktu sahur saya lakukan ritual makan yang biasanya saya lakukan pada waktu makan biasa, yaitu dimulai dari makan buah-buahan. Setelah nunggu 30an menit baru makan, dimulai dulu dari berprotein, dan diakhiri dengan makanan berkarbohidrat.

Training diikuti oleh 600an mahasiswa baru. Karena mahasiswa dari Akademi Sekretaris Mataram juga ikut, maka ruangan jadi terasa segar. Wah, gawat deh…..bisa batal puasa kalau nggak kuat iman…he…he…he….

Tapi ternyata bukan masalah “nggak kuat iman” yang jadi masalah. Benar juga, sekitar 2 jam berteriak-teriak memberi motivasi, mulailah tenggorokan terasa kering sekali, soalnya bisasanya tiap jam pasti sebotol Aqua habis. Gawat nih, makin lama teriak, makin kering rasanya tenggorokan.

Maka diterapkanlah semua ajian yang selama ini dipelajari, terutama dari ilmu NLP, tepatnya jurus visualisasi.

Ketika peserta sedang sibuk dengan aktivitas, saya cari tempat agak mojok sedikit yang nggak kelihatan dari peserta (gengsi kan…..). Setelah relaksasi sebentar,  saya visualisasikan seolah-olah tenggorokan saya yang kering diguyur air (wah, batal nggak ya menurut syariah…meskipun hanya visualisasi). Alhamdulillah, sebentar saja rasa kering terbakar di tenggorokan hilang.

Berikutnya saya berkomunikasi dengan pikiran bawah sadar saya dan saya perintahkan untuk menghilangkan rasa haus dan rasa kering di tenggorokan. Beberapa saat kemudian kelihatannya perintah ini dituruti sama pikiran bawah sadar saya, sehingga selama training sampai selesai pukul 16.00 tidak ada rasa haus apalagi lapar bin lemes sedikitpun, sehingga tetap bisa teriak “APA KABAR JUARA……….”……..”YESSSSSSS………”

Seminar nasional Teknologi Informasi di Lombok Timur

Puncak acara Dies Mauludiyah Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer Syaikh Zainuddin NW Anjani di Lombok Timur adalah seminar nasional tentang pendidikan informatika. Saya diundang sebagai salah seorang panelis bersama-sama dengan pak Dadang Hermawan, Ketua STMIK dan STIKOM Bali.

Dari Jakarta saya naik, lagi-lagi Garuda, ke Mataram. Kalau dicari di Web sitenya Garuda kota ini tidak akan ditemukan, karena Garuda menyebutnya Ampenan.

DI bandara saya dijemput Ketua STMIK Syaikh Zainuddin NW Anjani sendiri, yaitu pak Mughni, yang S2nya dari Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.

Sebelum berangkat ke Lombok Timur yang kira-kira 2 jam perjalanan, saya diajak makan plecingan. Wah…kebetulan, salah satu hobi saya kalau traveling adalah merasasakan makanan khas daerah tersebut. Jadi makanan-makanan yang bagi orang Jawa nggak terbayang untuk dimakan, pernah saya rasakan. Nanti saya akan cerita pengalaman saya makan tempoya, semacam trasi tapi terbuat dari duren, waktu ke Lahat. Yang nggak biasa bisa muntah-muntah karena baunya, tapi setelah saya coba, eh…enak juga, bahkan menurut saya masuk dalam kategori enak sekali.

Dalam acara tersebut saya sampaikan potret buram pendidikan tinggi kita. Dengan jumlah calon mahasiswa baru non PTN hanya 100 ribu, dan jumlah PTS hampir 2600an, maka rata-rata PTS di Indonesia hanya kebagian 40 mahasiswa baru saja.

Berita selengkapnya ada di sini

Training motivasi calon anggota legislatif Partai Amanat Nasional, Madura

Hotel di Sumenep

Saya diajak mas Ahmad Ruba’i, salah seoang anggota DPR Propinsi Jawa Timur, untuk memberikan training motivasi kepada pada caleg PAN se Madura.

Dari Jakarta saya naik Garuda ke Surabaya, dilanjutkan dengan jalan darat dari Surabaya menuju Sumenep, di ujung timur pulau Madura. Sumenep ternyata kotanya meskipun kecil, cukup ramai juga. Di Sumenep saya mengiap di Hotel Garuda, hotel kecil tapi bersih.

Mas Ruba'i membagikan sembako

Ini merupakan pengalaman pertama saya mengunjungi Pulau Garam tersebut. Kalau melihat rumah-rumahnya, kelihatannya penduduk Sumenep dan Pamekasan ekonominya cukup. Beda dengan Bangkalan. Yang surprise bagi saya, tenyata calegnya lebih bahyak perempuannya daripada laki-lakinya. Dan ternyata orang Madura manis-manis juga.

Pada hari Sabtu, sehari sebelum training saya ikut dalam acara pembagian sembako.

Training dilaksanakan di Hotel Utami, Sumenep.

Nah, waktu training dilaksanakan, banyak juga hal-hal yang biasa saya lakukan ternyata mendapat respons yang berbeda di Madura. Tapi meskipun demikian, para peserta sangat senang dengan training tersebut, dan saya menghabiskn waktu lebih dari satu jam untuk melayani mereka berfoto. Nggak apa-apa sih, seneng juga, lha wong manis-manis semua. Sampai sekarang mereka masih berkomunikasi dengan saya lewat SMS atau email. Ada lho ternyata yang pakai email di Sumenep.

Pulangnya, saya oleh mas Rubai dibawakan oleh-oleh sepasang batik sutra Madura yang sangat indah. Cocok dengan saya karena setiap hari kemana-mana saya selalu pakai batik. Makanya saya punya berjenis-jenis batik.

Berita dari Indo Pos ada di sini

Training motivasi calon-calon wisudawan Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti

Pada waktu saya memberikan pelatihan Leadership kepada jajaran manajemen PT. Perumnas di Puncak, saya bertemu dengan Prof. Mutiara Panggabean.

Dari perkenlan tersebut dan setelah beliau menyaksikan training saya, kemudian beliau mengundang saya untuk memberikan training kepada mahasiswa-mahasiswanya yang akan wisuda. Beliau bilang “membernikan diri”, bahkan “setengah nekat”, karena takut nggak kuat mbayar honor saya. Saya sampaikan pada beliau, saya alhamdulillah punya penghasilan yang lebih dari cukup dari pekerjaan-pekerjaan saya di luar training plus jadi komisaris di beberapa perusahaan, termasuk perusahaan multinasional. Jadi saya bilang untuk mahasiswa nggak usah khawatir. Saya sampaikan juga, rutin setiap tahun saya mengisi acara orientasi mahasiswa baru di berbagai perguruan tinggi di Indonesia dan saya punya materi khusus untuk mereka yang saya sebut “We are the champions”, yaitu gado-gado racikan dengan dasar kecerdasan paripurna yang ditambah berbagai bumbu dai para maestro training dunia.

Maka jadilah saya memberikan taining setengah hari, yaitu mulai dari selesai Jumatan sampai pukul 18. Pesertanya sekitar 600an. Dan biasa namanya mahasiswa banyak yang ngak serius, ngobrol sendiri, atau malah tidur. api alhamdulillah berkat pengalaman lapangan setiap ospek yang melibatkan peserta sampai 1500 bahkan sampai 2000 seperti di Univesitas Kanjuruhan Malang atau Universitas Pancasila, jadi ya enteng-enteng saja mengatasi masalah tersebut. Intinya ya pakai ilmu-ilmu boleh NLP boleh lainnya, yang penting adalah bagaimana kita sebagai trainer bisa menyamakan frekuensi kita dengan mereka, terus pacing…pacing…pacing, nah lama-lama leading. Hasilnya samai akhir acara, nggak ada satupun mahasiswa yang meningalkan acara. Bahkan ada seorang mahasiswa yang confess, mau kencing saja ditahan, karena takut ada bagian yang hilang dari training saya.

Meskipun sifatnya amal, ternyata Tuhan Maha Adil. Ada beberapa peserta yang bekerja pada beberapa perusahaan besar yang mengenalkan saya pada bosnya, dan akhirnya jadi klien saya sampai sekarang.

Training “Kecerdasan paripurna” calon karyawan PT. Jamsostek

PT. Jamsostek ada;ah sa;ah satu klien saya. Sebetulnya dulu waktu saya masih menjadi Direktur Utama sebuah perusahaan konsultan IT, PT. Sendang Rekayasa, PT. Jamsostek juga sudah menjadi klien saya via perusahan tersebut, tetapi dalam bidang IT.

Saya dengan tim waktu itu melakukan rescue ketika menghadapi masalah komputasi tahun 2000 yang dikenal sebagai “millenium bug”. Kemudian saya juga menjadi konsultan implementasi Sistem Informasi Pelayanan Terpadu (SIPT).

Tetapi dalam urusan ini saya nggak ceria dulu soal IT, tetapi training yang diminta oleh PT. Jamsostek untuk para calin karyawannya. Materi yang saya berikan adalah “Kecerdasan paripurna”, yang melatih empat kecerdasan manusia yaitu kecerdasan fisik (PQ), kecerdasan otak (IQ), kecerdasan hati (EQ), dan kecerdasan jiwa (SQ).

Mengingat banyaknya peserta dn supaya pelatihannya efektif, peserta dibagi menjadi 6 angkatan.

Peserta training Jamsostek lagi asyik menari

Mengingat ternyata setelah dua angkatan pimpinan Jamsostek melihat sendiri efektivitasnya, maka dibuat acara training mendadak yang pesertanya adalah para karyawan yang akan promosi menduduki jabatan eselon 1 di PT. Jamsostek.

Setiap selesai training, lagi-lagi saya menerima puluhan SMS yang memberikan apresiasi kepada saya. Semua SMS saya simpan. Selain itu smpai sekarang saya masih sering menerima SMS dari mereka berisi mulai dari “just to say hello” sampai yang curhat soal macem-macem. Wah, terpaksalah jadi psikolog gadungan, tapi ajaibnya koq ya manjur ya…

Training motivasi calon anggota legislatif PAN Sumatra Barat

Sumatra Barat adalah DPW pertama yang telah menyelesaikan pencalegan dininya dan pada tanggal 15 Juni 2008 DPW Sumbar mengadakan training motivasi pemenangan pemilu di Hotel Pangeran.

Training dibuka langsung oleh Sekretaris Jenderal Partai Amanat Nasional Zulkifli Hasan dan juga dihadiri oleh Bendahara Umum PAN Asman Abnur. Dari Jakarta saya berangkat bersama mereka dengan Garuda yang paling pagi, yaitu depart pukul 06.00. Tetapi rupanya biar Garuda mahal, bisa delay juga, dan akhirnya baru pukul 07.15 berangkat.

Tiba di Padang kami dijemput oleh Ketua DPW PAN Sumbar, pak Asli Chaidir, dan karena sudh terlambat maka langsung ke hotel tempat acara.

Peserta sedang menikmati dihipnotis

Seteah Sekjen membuka dan memberi pengarahan, maka giliran saya manggung. Saya bawakan training saya berupa versi mini dari “We are the champions” yang dimodifikasi khusus untuk PAN. Meskipun menurut peserta trainingnya bagus banget (…gitu loh…), saya sendiri kurang puas. Sebetulnya saya sudah minta agar peserta lesehan atau kalau pakai kuri agak jarang-jarang, tetapi mungkin karena pesertanya mencapai 650an orang jadi ya terpaksa aak mepet-mepetan. Akibatnya banyak kegiatan permainan yang tidak dapat dilaksanakan. Walhasil, saya harus teriak-teriak terus-menerus selama 6 jam.adahal kalau ada permainan kan bisa istirahat teriaknya boo…

Malamnya ada berita duka, yaitu salah seorang anggota DPR Propinsi dari Fraksi PAN yang juga salah seorang Ketua DPD wafat. Maka meskipun capai kami kemudian melayat ke rumah duka di Solok bersama-sama Ketua DPW. Pulangnya mampir makan malam di jalan dan terus ke hotel, karena besoknya, Senin pagi-pagi saya harus sudah di Jakarta. Biasa tugas rutin yaitu ngajar.

Training Kader Madya Partai Amanat Nasional di Banda Aceh

Rapimwil dan LKAM DPW PAN NAD

Saya sudah mengunjungi 25 dari 33 propinsi di Indonesia dan hampir 260an kabupaten/kota dalam rangka seminar, training, maupun jalan-jalan. Nanggro Aceh Darussalam adalah propinsi yang kali ini baru pertama kali saya kunjungi.

Saya diundang oleh Dewan Pimpinan Wilayah Partai Amanat Nasional untuk memberikan satu sesi motivasi kepada peserta Latihan Kader Madya Partai Amanat Nasional, yang terdiri dari pengurus-pengurus DPW dan DPD-DPD di DPW NAD.

Rumah penduduk pasca tsunami

Di Bandara saya merasa sangat terhormat sekali karena dijemput oleh Ketua DPW PAN NAD yaitu pak Azwar Abubakar, yang dulu pernah jadi Wakil Gubernur Aceh. Oleh beliau saya diajak jalan-jalan dulu melihat Banda Aceh, terutama melihat-lihat daerah-daerah yang dulu terkena tsunami.

Kampung Persahabatan Indonesia Tiongkok

Saya juga diajak melihat-lihat kompleks perumahan resetlement korban tsunami. Ada satu kompleks yang menarik bagi saya sebagai Ketua Dewan Pakar Perhimpunan Persahabatan Antarbangsa Indonesia Cina, yaitu kompleks yang diberi nama Kampung Persahabatan Indonesia Tiongkok.

Nah kalau saja semua bangsa di dunia ini bersahabat, maka damailah dunia ini, kata John Lennon.

Acara motivasi peserta latihan kader dilaksanakan mulai setelah shalat Isya’ sampai tengah malam. Materi yang saya bawakan adalah versi mini dari “We are the champions”. Pada acara kontemplasi, sebagian besar peserta menangis. Bahkan Ketua Badan Pemenangan Pemilu DPW NAD, Tun Azhari, sedikit terhanyut sampai agak histeris. Tapi di akhir acara ketika semangatnya semua sudah terbakar, teriakannya sangat menggelegar. Saya lihat kalau waktu itu saya teruskan dan peserta saya minta merobohkan pagar gedung DPR, bakal robohlah pagar tersebut, saking semangatnya mereka.

LKAM DPW NAD

Karena itu untuk menutup acara saya tenangkan kembali dengan proses meditasi dan relaksasi, sekaligus menanamkan jangkar ke bawah sadar mereka, yang akan mereka gunakan nanti waktu kampanye.

Malamnya saya diajak makan es krim yang enak banget di Banda Aceh sana oleh mbak Dewi Coriyati. Besok paginya saya dijamu sarapan oleh Ketua DPW Azwar Abubakar di rumah beliau. Banyak makanan yang enak-enak dan aneh-aneh. Tetapi karena saya harus buru-buru balik Jakarta karena besoknya saya harus ke Padang memberi training para caleg se Sumatra Barat maka nggak semua makanan dinikmati. Tun Azhari membelikan oleh-oleh untuk istri saya kain tenun Aceh warna hijau yang cantik sekali. Jadi kalau istri saya lagi pakai kain tersebut, saya jadi ingat Aceh kembali.

Training “Mengajar dengan kecerdasan hati dan spiritual” guru-guru di Bengkalis

Sabtu, 7 Juni 2008, saya berangkat dengan Garuda, seperti biasa buat nambah mileage saya, dari Jakarta ke Pekanbaru karena diundang oleh Pemda Bengkalis untuk memberikan training kepada guru-guru di Bengkalis. Bengkalis menjadi kota ke 262 dari 450an kabupaten/kota Indonesia yang telah saya kunjungi.

Suasana di ferry

Setelah mendarat di Pekanbaru, saya dijemput oleh staff dan kemudian menuju terminal ferry Pekanbaru. Perjalanan ke Bengkalis rupanya harus menggunakan kapal menyusuri Sungai Siak.

Saya tidak mengira kalau perjalanan dengan ferry ini cukup panjang juga, hampir 5 jam saya di ferry.

Sepanjang Sungai Siak

Sepanjang jalan, atau sepanjang sungai kali yah, menyusuri Sungai Siak yang berliku-liku dan membosankan. Untung penyakit lama saya yaitu nggak bisa tidur di kendaraan bergerak sudah hilang sejak saya memakai gelang magnetik bermerek Casio alias dikasih orang. Kadang-kadang saja terbangun dan melihat kanan-kiri hutan lebat. Jadi ingat filem-filem petualangan. Mungkin kayak gini ya asyiknya.

Hotel Panorama

Sesampai di Bengkalis saya langsung ke hotel Panorama. Hotelnya kecil saja, tapi memang Bengkalis meskipun kabupaten kaya tetapi karena letaknya di pulau terpencil maka ya kotanya kecil saja. Hampir nggak ada mobil di sana. Adanya ya motor dan becak.

Besok paginya pukul 07:00, sebelum acara training dimulai, saya diajak ke rumah Bupati Bengkalis, yaitu pak Syamsurizal. Rumah dinasnya wah…..megah banget. Pak Bupati nampaknya habis berolah-raga. Meskipun masih keringetan, pak Bupati menyambut kami dengan ramah. Kami bincang-bincang banyak hal, di antaranya anggaran pendidikan Kabupaten Bengkalis yang mencapai Rp. 400 milyar. Waaaahhh….banyak sekali untuk kota sekecil Bengkalis.

Rumah dinas Pak Bupati

Dari bincang-bincang tersebut, saya surprise juga dengan ide-ide pendidikan Pak Bupati yang tergolong revolusioner, misalnya dari SD harus sudah menguasai bahasa Inggris, soal-soal ulangan atau ujian tidak lagi pilihan ganda tetapi essay, anak-anak sekolah bebas seragam, dan lain-lain. Nggak heran, rupanya beliau sedang menyelesaikan program doktoralnya di Malaysia, pantesan pandangannya luas. Saya katakan kepada beliau dengan ide-ide besar dan dukungan keuangan yang tersedia pasti gampang kan terlaksana. Tetapi beliau mengluhkan kualitas SDM yang kurang mampu mengimplementasikan pikiran-pikiran besarnya. Buntut-buntutnya, beliau menawarkan saya agar sering-sering berkunjung ke Bengkalis dan berdiskusi dengan beliau, atau kalau mau sekalian diangat jadi konsultan karena beliau bercita-cita punya universitas. Sayangnya mengingat komitmen-komitmen saya yang seabrek-abrek saya terpaksa menolak tawaran beliau.

Peserta training

Dari kediaman pak Bupati kemudian pukul 09:00 kami menuju tempat training. Tempatnya lumayan bagus, pesertanya lumayan banyak juga sekitar 400an guru. Acara dibuka oleh pak Bupati yang memberi sambutan.

Acara training berjalan mulus, pesertanya sangat terlibat dan nggak malu-malu. Waktu acara kontemplasi banyak yang nangis tapi nggak sampai histeris.

Selesai training seperti ritual yang biasa, peserta banyak yang minta foto bareng. Yang membuat saya agak surprise adalah ketika beberapa di antara peserta yang minta foto mengatakan bahwa selama ini mereka belum pernah ketemu muka sama seorang profesor, biasanya profesor cuma kelihatan di TV saja.

Foto bersama panitia

Dari catatan saya, sertifikat “Mengajar dengan kecerdasan hati dan spiritual” yang saya tanda-tangani sejakF materi ini saya berikan sampai hari itu sudah mencapai 65.348 (enampuluh lima ribuan). Ternyata banyak juga ya, untung nggak sekaligus, dan untung karena pengabdian saya untuk guru jadi saya nggak jadi kaya raya harta karena program ini.

Tapi saya senang sekali dengan acara ini. Apalagi ternyata panitia dan oran-orang Bengkalis ramah-ramah. Sepulang dari Bengkalis saya mendapat puluhan SMS yang menyatakan terimakasih mereka dan mereka ingin lagi ada training semacam itu. Dan seperti biasa, ada juga satu-dua SMS yang nyeleneh, resiko jadi trainer lah.