Jejaring Pendidikan Nasional

Pada tanggal 22 Januari 2010 saya bersama-sama Dr. Onno W. Poerbo (pakar TI), dan Dr. Agung Harsoyo (dari ITB) diundang oleh Komisi X untuk Rapat Dengar Pendapat (RDP) tetang Jejaring Pendidikan Nasional (Jardiknas). Beberapa kali sebelumnya saya pernah jadi narasumber RDP terutama menyangkut masalah-masalah pendidikan atau masalah-masalah sekitar teknologi informasi.

Untuk keperluan tersebut saya sengaja tidak menyiapkan PowerPoint untuk presentasi atau makalah tertulis, tetapi membuat gambaran soal Jardiknas ini dalam bentuk sebuah MindMap seperti di bawah ini.

jardiknas mindmap

Ketika saya tiba di depan ruang Komisi X mengisi daftar hadir, beberapa anggota Dewan yang juga mengisi daftar hadirpun oleh staff sekretariat diberi SATU lembar kertas yang berisi gambar MindMap saya tersebut.

Saya mendengar beberapa komentar yang isinya adalah komplain koq bahan dari seorang profesor hanya selembar kertas yang isinyapun cuma corat-coret yang nggak karuan isinya.

Mendengar celetukan tersebut saya hanya tersenyum saja. Pasti yang nyeletuk itu tidak paham bahwa MindMap adalah representasi yang lebih powerfull dibandingkan slide atau tulisan.

Sambil menunggu RDP, ternyata sempat ada “reuni” ITBan, karena semua narasumber alumni ITB semua, dan beberapa anggota Komisi X juga alumni ITB. Mungkin ini jenis alumni ITB yang dulu waktu kuliah pacaran sama mahasiswi IKIP Bandung makanya pada jadi ahli pendidikan ya.

Ketika RDP dimulai, setelah dibuka oleh Ketua Sidang Abdul Hakam Naja, teman lama saya, maka saya dapat giliran bicara paling dulu karena katanya rambutnya paling banyak putihnya.

Sebelum saya memulai paparan, ada interupsi dari seorang anggota Dewan yang memprotes bahan saya yang katanya hanya corat-coret saja. Saya jawab dengan menjelaskan bahwa yang “corat-coret” tersebut adalah sebuah MindMap. Sengaja saya buat dalam bentuk MindMap sehingga kalau tidak menyimak penjelasan saya pasti susah memahami apa yang ada di dalam “corat-coret” tersebut. Jadi terpaksalah anggota Panja Jardiknas ini dengan serius menyimak “unjuk akal” saya.

Saya mulai dengan menjelaskan bahwa TIK (teknologi informasi dan komunikasi) adalah sesuatu yang penting, pendidikan juga sesuatu yang penting. Karena itu pemanfaatan TIK untuk pendidikan adalah sesuatu yang sangat penting. Saya juga sampaikan premis favorit saya soal seperti ini yaitu “teknologi merupakan salah satu pilar kemajuan, tanpa teknologi tidak akan pernah tercapai kemajuan”.

TIK  sangat berperan dalam pendidikan melalui 3 hal, yaitu meningkatkan kualitas, memperluas akses pendidikan, dan meningkatkan kualitas tatakelola pendidikan. Dengan demikian Jardiknas adalah sesuatu yang sangat penting dan strategis untuk kemajuan pendidikan bangsa. Karena itu Jardiknas harus dirancang dan diimplementasikan dengan baik. Kenapa?

Menurut penelitian, pemanfaatan TIK di negara-negara maju maupun negara-negara berkembang menunjukkan korelasi yang positif dengan peningkatan kualitas pendidikan yang diukur dari prestasi murid-muridnya. Sekolah-sekolah yang pemanfaatan TIKnya tinggi ternyata murid-muridnya lebih berpretasi dibandingkan dengan murid-murid dari sekolah yang pemanfaatan TIKnya rendah. Tetapi hanya terjadi jika dipenuhi 3 syarat, yaitu:

1. Rasio antara komputer terhadap murid tidak lebh dari 1:8 (SD) dan 1:4 (SMP dan SMA)

2. Penggunaan TIK mencakup tidak kurang dari 70% kegiatan belajar mengajar dan TIK terintegrasi dengan kurikulum

3. Murid-murid disamping memiliki akses  terhadap TIK baik  ”ON SCHOOL” maupun “OFF SCHOOL”

Artinya, jika ke tiga syarat tersebut tidak terpenuhi maka dampak TIK terhadap peningkatan kualitas pendidikan mungkin tidak akan tercapai.

Kemudian saya paparkan tentang masalah-masalah Jardiknas yang saya dapatkan dari berbagai sumber, yaitu

1. Masalah politis, yaitu proses perpindahan Jardiknas dari Biro PKLN ke Pustekkom yang tidak “smooth” sehingga menimbulkan kesan kudeta atau perampasan. Ini kemudian menyebabkan terjadinya “perlawanan” dari para pionir dan relawan Jardiknas versi awal, baik fisik di lapangan maupun di dunia maya dalam bentuk blog dan komentar-komentar blog serta media online.

2. Masalah infrastruktur. Jardiknas tidak punya infrastruktur sendiri, tetapi menyewa ke salah satu provider/ISP. Karena jumlah titik yang sangat banyak (18 ribu SD/SMP) dan 7 ribuan SMA), maka Pustekkom tidak bisa memonitor jaringan yang sangat besar ini karena tidak memiliki alat yang memadai, sehingga jika providernya nakal karena ingin untung besar atau karena harga sewanya murah sehingga dilakukan penurunan service level, maka Pustekkom tidak akan bisa mengendalikan dan mengatasi masalah ini.

3. Masalah konten. Jardiknas ditumpangi dengan bebagai konten yang tidak semuanya dibuat oleh Pustekkom. Selain jumlahnya yang baru sedikit, tetapi kualitasnya juga rendah sehingga tidak dapat dimanfaatkan dalam kegiatan belajar mengajar (KBM). Bahkan konten andalannya, yaitu Buku Sekolah Elektronis (BSE) pun di banyak tempat sulit untuk diakses.

4. Masalah SDM, baik internal Pustekkom sendiri maupun di sekolah-sekolah yang terhubung Jardiknas. Di Pustekkom, personil yang terlibat dalam Jardikas ini hamoir semuanya adalah orang TIK yang kurang memahami aspek-aspek pendidikan, sehingga melihat TIK hanya sebagai peralatan saja, tidak melihat TIK sebagai “enabler” dalam KBM. TIK sebagai media baru memiliki karakteristk yang sangat berbeda dengan media-media konvensional lainnya seperyi televisi, audio visual, buku, dan lainnya. Selain itu juga SDM di lokasi titik-titik Jardiknas banyak yang tidak memadai. Pada era awal Jardiknas, karena sifatnya adalah kegiatan komunitas, maka prosesnya adalah “bottom-up participatory approach”, sehingga meskipun skalanya tidak bisa masif, tetapi tidak ada kendala SDM di lapangan. Ketika Jardiknas pindah ke Pustekkom, karena dianggap proyek pemerintah pusat, maka pendekatannya menjadi “top-down”, sehingga dukungan komunitas hilang. Akibatnya Pustekkom harus melakukan pelatihan-pelatihan untuk SDM di lapangan. Karena anggaran pelatihannya sangat sedikit atau hampir tidak ada, maka akibatnya terjadi masalah terhadap SDM pendukung di lapangan.

5. Masalah manajemen. Masalah ini terjadi di suprastruktur Pustekkom, di dalam Pustekkom, dan di sekolah-sekolah yang tehubung Jardiknas. Masalah suprastruktur Pustekkom adalah masalah manajemen dan organisasi di Depdiknas sendiri. Pustekkom yang fungsinya hanya sebagai penyedia koneksi tentu saja tidak dapat mengendalikan aspek-aspek lain dalam pemanfaatan TIK untuk pendidikan, misalnya penyediaan komputer di sekolah-sekolah dan penyediaan konten pembelajaran ada di unit lain yang di luar kendali Pustekkom. Akibatnya, meskipun jaringan sudah digelar, Pustekkom tidak memiliki otoritas yang memadai untuk memaksa jaringan Jardiknas digunakan oleh sekolah-sekolah. Karena keterbatasan otoritas ini juga menyebabkan akhirnya investasi Jardiknas yang sangat mahal tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap peningkatan kualitas KBM. Seharusnya untuk masalah sepenting ini, Jardiknas harus dikelola oleh level eselon 1 yang mengkoordinasikan eselon 2 yang membidangi infrastruktur, konten, SDM (guru) dan pengembangan SDM (guru) yang mampu memanfaatkan TIK dalam KBM, strategi pendayagunaan TIK dalam KBM, dan beberapa unit pendukung lainnya. Saat ini, yang membidangi infrastruktur jaringan adalah Pustekkom, tetapi infrastruktur lain seperti komputer, listrik, gedung, dll ada di unit lain. Demikian juga konten, SDM, strategi ada di unit-unit lain bahkan ada di direktorat jenderal lain-lain.

Untuk mengatasi masalah-masalah tersebut, maka dalam RDP saya mengusulkan hal-hal berikut:

1. Kordinasi dengan Dewan TIK Nasional (Detiknas), terutama mensinkronkan 2 dari 7 flagship Detiknas, yaitu Pala Ring sebagai backbone Jardiknas, dan e-Edukasi sebagai suprastruktur konsep Jardiknas.

2. Melakukan survei dan pemetaan terhadap titik-titik Jardiknas untuk mengetahui dengan jelas titik-titik yang berjalan dengan baik dan yang tidak berjalan dengan baik beserta dengan kendala-kendalanya. Untuk sementara lebih baik Jardiknas tidak dikembangkan dulu lebh lanjut, tetapi anggaran digunakan untuk lebih meningkatkan dayaguna dari titik-titik Jardiknas yang sudah dipasang.

3. Membuat sebuah rencana strategis (RENSTRA) pemanfaatan TIK dalam peningkatan kualitas, perluasan akses, dan peningkatan tatakelola pendidikan secara menyeluruh. Dalam membuat renstra ini kita bisa belajar dari pengalaman negara-negara lain yang telah memanfaatkan TIK untuk pendidikan, sehingga kita bisa memodifikasi dan menerapkannya sesuai dengan kondisi Indonesia. Termasuk dalam renstra ini adalah rancangan struktur organisasi yang akan mengimplementasikan pemanfaatan TIK untuk pendidikan sehingga organisasi ini memiliki otoritas yang memadai. Dalam renstra ini juga fokus tidak hanya terhadap output (jumlah titik terapasang, jumlah server, jumlah teknisi, dll), maupun outcome (jumlah guru yang bisa Internet, jumlah blog yang dibuat guru atau murid, jumlah data yang sudah diupload ke server, dll), tetapi yang todak kalah pentingnya adalah dampak atau “impact”, misalnya peningkatan nilai ujian nasional, peningkatan juara-juara lomba ilmiah seperti olimpiade sains atau matematika, dll. Fokus terhadap dampak inilah yang belum nampak dari pemanfaatan TIK dalam pendidikan di Indonesia, khususnya Jardiknas, yang selalu menjadi pertanyaan para anggota DPR setiap tahun anggaran.

4. Merubah paradigma KBM dengan mengintegrasikan TIK dalam KBM, sehingga TIK bukan hanya digunakan untuk belajar TIK saja, tetapi mendukung semua proses KBM untuk semua mata pelajaran secara terpadu.

Setelah saya memberikan “unjuk akal” saya, kemudian Dr. Onno Purbo melanjutkan dengan pengalaman lapangannya, dan Dr. Agung menambahkan dengan tambahan-tambahan lainnya.

Sete;ah melalui tanya-jawab yang “gayeng”, nggak seperti yang kita lihat di Pansus Century, sebelum Ketua Rapat menutup RDP, kami diminta membuat sebuah statemen akhir. Statemen akhir saya adalah:

“Jardiknas, apapun keadaanya sekarang adalah sebuah realita. Jika kita ibaratkan dalam peribahasa, nasi sudah menjadi bubur. Tetapi nasi yang sudah menjadi bubur tidak perlu kita sesali dan jangan dibuang. Mari kita bersama-sama menambahkan potongan ayam, telur, kacang, krupuk, kaldu, dan kecap, sehingga bubur ini jadi bubur ayam, yang lebih enak daripada nasi. Kita semua berkewajiban menjadikan bubur ini jadi bubur ayam yang enak dan bermanfaat. Mari kita jadikan Jardiknas yang ada sekarang lebih bermanfaat dalam mencerdaskan bangsa”

Rapat kemudian ditutup oleh Ketua dengan guyonan “Dari TIK ternyata bisa berubah jadi bubur ayam”. Nah lho………..????

Ketika teknologi tak perkasa lagi: Pengalaman memberi training motivasi para penyandang cacat

Pada tanggal 31 Juli 2009 saya diundang untuk memberikan motivasi pada Rakernas Persatuan Penyandang Cacat Indonesia (PPCI) di Asrama Haji Bekasi. Bayangan saya sebelum saya tiba di lokasi, karena pesertanya adalah para pengurus PPCI se Indonesia, maka kira-kira pakem training standard dengan musik, film, teriak-teriak, meditasi, sedikit permainan stage hypnotist, bisa saya terapkan.

Tiba di lokasi, saya ditemui oleh mas Gufron Sakaril, teman lamaa saya yang jadi Humas di Indosiar. Beliau adalah salah seorang penyandang cacat yang jadi pengurus PPCI. Saya kagum dengan prestasi beliau, meskipun menyandang cacat, tapi prestasinya hebat. Saya juga salut dengan Indosiar yang bisa menerima mas Gufron sebagai Kepala Humasnya.

Nah, masalahnya begini. Ketika saya dikenalkan dengan para peserta, saya terkejut sekali, karena mereka menyandang cacat yang berbeda-beda. Ada yang cacat anggota tubuh, ada yang cacat penglihatan, ada yang tuna rungu, ada yang tuna wicara, ada yang terbelakang, dan bermacam-macam lainnya.

Maka terpaksalah otak diputar untuk mencari pendekatan yang bisa diterapkan pada kondisi yag sangat heterogen seperti ini. Bayangkan saja, musik maupun sound system caggih nggak mempan untuk yang tuna rungu, demikian juga kalimat-kalimat dan teriakan-teriakan motivasi. Film yang inspiratif yang bisa membuat orang menangis atau bertepuk tangan, nggak bisa dilihat oleh pesert yang tidak bisa melihat. Gerakan-gerakan permainan, tarian, dan aktivitas fisik tidak bisa dilakukan oleh peserta yang cacat anggota badan. Wah, piye iki….?

Akhirnya saya menggunakan teknik motivasi yang paling generik, yaitu berpusat kembali hanya kepada trainer, sehingga semua peserta bisa ikut aktivitas selama sehari penuh tanpa ada satupun yang beranjak meninggalkan tempat. Terbukti bahwa prinsip dasar para trainer bahwa komputer, layar, musik, dan berbagai teknologi hanya aksesoris saja. Seorang trainer sejati harus bisa hebat tanpa itu semua, karena alat utama dari trainer sejati adalah dirinya sendiri.

Di akhir acara, peserta menyalami dan memeluk saya,bahkan ada yang menangis, karena baru pertama kali mendapat motivasi hidup yang luar biasa katanya.

Berikutnya, panitia langsung membook saya untuk memberikan motivasi di pertemuan internasional penyandang ccat di Bngkok akhir tahun ini. Wah? Tambah lagi problemnya deh, yaitu kultur dan bahasa. Kalau cuma bahasa Inggris  mah gampang karena sudah seperti bahasa ibu saya saja, tapi peserta dengan bahasa ibu lainnya bagaimana ya nanti? Ya udahlah, biar nanti sajalah dipikirkan….

Pengalaman dengan kesurupan

kanjuruhanMasih di bulan puasa, pada tanggal 21 September 2008, saya diundang untuk memberikan motivasi pada mahasiswa baru Universitas Kanjuruhan, Malang. Di universitas ini saya tercatat sebagai Guru Besar Luar Biasa dan anggota Dewan Kurator. Training ini setiap tahun saya lakukan dalam rangka program orientasi mahasiswa baru sejak tahun 2006, bukan hanya di Universitas Kanjuruhan saja, tetapi di berbagai universitas di Indonesia.

Nah, pengalaman training kali ini unik. Bukan soal teriak-teriak di bulan puasa yang sudah bisa saya atasi dengan teknik seperti yang telah saya ceritakan di sini, tetapi terjadinya fenomena kesurupan…..what….kesurupan?….yes, benar, k-e-s-u-r-u-p-a-n.

Seperti biasa dalam training “We are the champions” saya ada sesi kontemplasi. Dengan teknik hipnosis, saya bawa 2000an mahasiswa untuk mengingat kembali perjalanan hidup mereka dari lahir sampai mereka menjadi mahasiswa, terutama hubungan dengan ke dua orang tua mereka. Yang pernah ikut training saya memberi label sesi ini dengan sesi “nangis-nangis” gitu loh….Dan memang, seperti biasa, hampir sebagian besar peserta menangis, bahkan ada beberapa yang histeris.

Nah, ceritanya, dari ratusan peserta yang histeris, ada sekitar 50an yang histerisnya luar biasa, sampai (sepertinya) kesurupan.

Ketika sesi selesai, puluhan mahasiswa masih dalam kondisi “kesurupan” ini. Maka acara saya skors, dan mulailah tim medis turun untuk menangani mereka. Ada yang sebentar saja sudah dapat diatasi, ada yang lama. Tetapi sampai selesai acara waktu break sholat dhuhur ternyata masih ada sekitar 15an yang masih kesurupan. Well, benar, kesurupan, karena mereka berteriak-teriak dan mengamuk dengan kekuatan yang luar biasa.

Wah, saya jadi bingung nih. Koq bulan puasa begini masih bisa kesurupan ya?

Karena tim medis belum berhasil mengatasi, maka terpaksalah sang trainer ini turun tangan sendiri. Berbagai cara saya gunakan, mulai pakai tenaga dalam yang dulu saya pelajari waktu di dunia persilatan, Reiki, baca ayat Qursyi, pakai ketok-ketok ala EFT, dan macam-macam jurus terpaksa saya gunakan.

Ada yang dengan tenaga dalam yang saya salurkan via telapak kaki mereka terus bisa disadarkan, ada yang harus pakai Reiki baru bisa, ada yang pakai tappin ala EFT baru bisa, ada yang dibacakan ayat Qursyi sambil “dipotong” lehernya pakai telapak tangan, dan macam-macam lah.

Selain itu dipanggil juga seorang Kyai yang kemudian ikut menangani, terutama kasus-kasus yang berat.

Akhirnya, semua bisa diatasi, hanya tinggal dua orang yang masih tertawa terbahak-bahak dan mengamuk. Satu laki-laki satu perempuan. Nah, saya dengan pak Kyai bagi tugas, dan saudara-saudara…tentu saja saya pilih yang cewek donk.

Maka mulailah semua jurus dan semua ilmu dikeluarkan, eh…tenyata nggak mempan. Ketika dibacakan ayat Qursyi, ternyata si mahasiswi, yang cewek ini malah bisa membaca dengan hafal, dan suaranya suara laki-laki (cowok). Wah, saya yang tadinya agak kurang percaya sama yang gini-gini, ternyata harus menyaksikan dan berurusan dengan hal-hal beginian.

Karena semua jurus ternyata gagal total, sama minta pak Kyai untuk turun tangan, eh…nggak berhasil juga. Si mahasiswi tetap ngamuk dan berteriak-teriak.

Akhirnya saya coba jurus lain dari ilmu NLP, ya benar, ilmu NLP. Saya coba berbicara dengan si mahasiswi yang kesurupan cowok ini. Saya ajak ngobrol alias berdialog.

Dia bilang asalnya dari Mataram, wah, kaget juga saya karena seminggu sebelumnya saya dari Mataram, jangan-jangan ikut saya dia…sereemm amat…Alhamdulillah ternyata tidak, dia memang tinggal di dalam aula tempat acara motivasi sudah lama katanya, sejak sebelum gedung tersebut dibangun.

Saya tanya juga kemapa koq ganggu mahasiswi saya, dia menhgatakan bahwa dia marah karena si mahasiswi waktu histeris tadi melemparkan kursi dan mengenainya.

Wah, kalau begini saya pikir masalahnya sederhana saja. Maka saya bilang saya minta maaf atas kelakuan mahasiswi saya tadi ya, dan kasihan dia sudah sangat lelah. Apa jawabnya?

“Nah, dari tadi kalau minta maaf kan selesai masalahnya, pak profesor nggak usah pakai macam-macam tenaga dalam segala”, katanya. Wah, kaget lagi saya, koq tahu pakai tenaga dalam.

“Udah ya, tolong kasih tahu mahasiswa-mahasiswanya pak profesor, lain kali sopan dikit lah, jangan brangasan”, lanjutnya.

Saya bilang, “Iya deh, nanti saya bilang mereka, sekali lagi saya minta maaf ya”.

Akhirnya dia bilang “Baik, saya akan pergi, tapi diiringi sama shalawat ya….”. Ketika dibacakan shalawat, tubuh si mahasiswi ini terasa menjadi dingin dan lemas. Beberapa saat kemudian dia sadar kembali.

Habis peristiwa ini saya jadi ingat jagoan favorit saya ketika SD dulu dari karya mbah Kho Ping Hoo, yaitu Bu Kek Siansu (jagoan tak terkalahkan), yang bisa mengalahkan jago-jago silat jahat dengan kelembutan dan maaf. Dalam bahasa Jermannya, “suro diro joyo ningrat, lebur dening pangastuti”, yang terjemahan bebasnya adalah “kekuatan dan kekerasan apapun akan kalah dengan kasih sayang dan kelembutan”

Kekuatan visualisasi: Training di bulan puasa

Tanggal 16 September saya diundang oleh pak Lalu Darmawan, Direktur Akademi Manajemen Informatika dan Komputer (AMIK) Mataram dan Akademi Sekretaris Mataram untuk memberikan training motivasi “We are the champions” bagi mahasiswa baru. Waduh….awalnya bingung juga, soalnya pas lagi awal-awal puasa. Nggak kebayang gimana nanti teriak-teriak sehari penuh dalam keadaan puasa.

Bagi saya memang biasa makan sedikit, sehingga faktor lapar mungkin nggak terlalu masalah. Tetapi bagaimana dengan faktor haus, karena sehari penuh, dari pukul 08.00 sampai pukul 17.00 harus berteriak-teriak dengan keras yang biasanya diikuti dengan tenggorokan kering alias haus. Biasanya saja kalau trainings emacam ini paling tidak 5 botol Aqua ukuran sedang pasti habis untuk minum selama training. Tapi karena namanya motivator, ya nggak bolehlah menyerah, malu donk……….Maka saya sanggupi saja training tersebut.

Trainingnya diselenggarakan di ballroom Hotel Lombok Raya. Hotelnya cukup bagus, dengan sound system kualitas atas. Konon menurut pak Lalu Darmawan, sound system ini yang biasanya dipakai oleh para pejabat tinggi Jakarta dalam acara-acara mereka. Saya sempat diskusi dengan pemilik sound system tersebut pada malam hari sebelum acara training ketika beliau menginstall sound system tersebut. Weleh, ternyata memang beliaunya hobi banget soal sound system. Saya lihat peralatannya memang dari merek kelas atas yang harganya ratusan juta. Pantes bagus banget suaranya. Maka dengan peralatan yang begini bagus makin yakinlah biar berteriak-teriak dan berloncat-loncatan seharian nggak bakalan capek.

Waktu sahur saya lakukan ritual makan yang biasanya saya lakukan pada waktu makan biasa, yaitu dimulai dari makan buah-buahan. Setelah nunggu 30an menit baru makan, dimulai dulu dari berprotein, dan diakhiri dengan makanan berkarbohidrat.

Training diikuti oleh 600an mahasiswa baru. Karena mahasiswa dari Akademi Sekretaris Mataram juga ikut, maka ruangan jadi terasa segar. Wah, gawat deh…..bisa batal puasa kalau nggak kuat iman…he…he…he….

Tapi ternyata bukan masalah “nggak kuat iman” yang jadi masalah. Benar juga, sekitar 2 jam berteriak-teriak memberi motivasi, mulailah tenggorokan terasa kering sekali, soalnya bisasanya tiap jam pasti sebotol Aqua habis. Gawat nih, makin lama teriak, makin kering rasanya tenggorokan.

Maka diterapkanlah semua ajian yang selama ini dipelajari, terutama dari ilmu NLP, tepatnya jurus visualisasi.

Ketika peserta sedang sibuk dengan aktivitas, saya cari tempat agak mojok sedikit yang nggak kelihatan dari peserta (gengsi kan…..). Setelah relaksasi sebentar,  saya visualisasikan seolah-olah tenggorokan saya yang kering diguyur air (wah, batal nggak ya menurut syariah…meskipun hanya visualisasi). Alhamdulillah, sebentar saja rasa kering terbakar di tenggorokan hilang.

Berikutnya saya berkomunikasi dengan pikiran bawah sadar saya dan saya perintahkan untuk menghilangkan rasa haus dan rasa kering di tenggorokan. Beberapa saat kemudian kelihatannya perintah ini dituruti sama pikiran bawah sadar saya, sehingga selama training sampai selesai pukul 16.00 tidak ada rasa haus apalagi lapar bin lemes sedikitpun, sehingga tetap bisa teriak “APA KABAR JUARA……….”……..”YESSSSSSS………”

Seminar nasional Teknologi Informasi di Lombok Timur

Puncak acara Dies Mauludiyah Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer Syaikh Zainuddin NW Anjani di Lombok Timur adalah seminar nasional tentang pendidikan informatika. Saya diundang sebagai salah seorang panelis bersama-sama dengan pak Dadang Hermawan, Ketua STMIK dan STIKOM Bali.

Dari Jakarta saya naik, lagi-lagi Garuda, ke Mataram. Kalau dicari di Web sitenya Garuda kota ini tidak akan ditemukan, karena Garuda menyebutnya Ampenan.

DI bandara saya dijemput Ketua STMIK Syaikh Zainuddin NW Anjani sendiri, yaitu pak Mughni, yang S2nya dari Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.

Sebelum berangkat ke Lombok Timur yang kira-kira 2 jam perjalanan, saya diajak makan plecingan. Wah…kebetulan, salah satu hobi saya kalau traveling adalah merasasakan makanan khas daerah tersebut. Jadi makanan-makanan yang bagi orang Jawa nggak terbayang untuk dimakan, pernah saya rasakan. Nanti saya akan cerita pengalaman saya makan tempoya, semacam trasi tapi terbuat dari duren, waktu ke Lahat. Yang nggak biasa bisa muntah-muntah karena baunya, tapi setelah saya coba, eh…enak juga, bahkan menurut saya masuk dalam kategori enak sekali.

Dalam acara tersebut saya sampaikan potret buram pendidikan tinggi kita. Dengan jumlah calon mahasiswa baru non PTN hanya 100 ribu, dan jumlah PTS hampir 2600an, maka rata-rata PTS di Indonesia hanya kebagian 40 mahasiswa baru saja.

Berita selengkapnya ada di sini

Training motivasi calon anggota legislatif Partai Amanat Nasional, Madura

Hotel di Sumenep

Saya diajak mas Ahmad Ruba’i, salah seoang anggota DPR Propinsi Jawa Timur, untuk memberikan training motivasi kepada pada caleg PAN se Madura.

Dari Jakarta saya naik Garuda ke Surabaya, dilanjutkan dengan jalan darat dari Surabaya menuju Sumenep, di ujung timur pulau Madura. Sumenep ternyata kotanya meskipun kecil, cukup ramai juga. Di Sumenep saya mengiap di Hotel Garuda, hotel kecil tapi bersih.

Mas Ruba'i membagikan sembako

Ini merupakan pengalaman pertama saya mengunjungi Pulau Garam tersebut. Kalau melihat rumah-rumahnya, kelihatannya penduduk Sumenep dan Pamekasan ekonominya cukup. Beda dengan Bangkalan. Yang surprise bagi saya, tenyata calegnya lebih bahyak perempuannya daripada laki-lakinya. Dan ternyata orang Madura manis-manis juga.

Pada hari Sabtu, sehari sebelum training saya ikut dalam acara pembagian sembako.

Training dilaksanakan di Hotel Utami, Sumenep.

Nah, waktu training dilaksanakan, banyak juga hal-hal yang biasa saya lakukan ternyata mendapat respons yang berbeda di Madura. Tapi meskipun demikian, para peserta sangat senang dengan training tersebut, dan saya menghabiskn waktu lebih dari satu jam untuk melayani mereka berfoto. Nggak apa-apa sih, seneng juga, lha wong manis-manis semua. Sampai sekarang mereka masih berkomunikasi dengan saya lewat SMS atau email. Ada lho ternyata yang pakai email di Sumenep.

Pulangnya, saya oleh mas Rubai dibawakan oleh-oleh sepasang batik sutra Madura yang sangat indah. Cocok dengan saya karena setiap hari kemana-mana saya selalu pakai batik. Makanya saya punya berjenis-jenis batik.

Berita dari Indo Pos ada di sini

Training motivasi calon-calon wisudawan Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti

Pada waktu saya memberikan pelatihan Leadership kepada jajaran manajemen PT. Perumnas di Puncak, saya bertemu dengan Prof. Mutiara Panggabean.

Dari perkenlan tersebut dan setelah beliau menyaksikan training saya, kemudian beliau mengundang saya untuk memberikan training kepada mahasiswa-mahasiswanya yang akan wisuda. Beliau bilang “membernikan diri”, bahkan “setengah nekat”, karena takut nggak kuat mbayar honor saya. Saya sampaikan pada beliau, saya alhamdulillah punya penghasilan yang lebih dari cukup dari pekerjaan-pekerjaan saya di luar training plus jadi komisaris di beberapa perusahaan, termasuk perusahaan multinasional. Jadi saya bilang untuk mahasiswa nggak usah khawatir. Saya sampaikan juga, rutin setiap tahun saya mengisi acara orientasi mahasiswa baru di berbagai perguruan tinggi di Indonesia dan saya punya materi khusus untuk mereka yang saya sebut “We are the champions”, yaitu gado-gado racikan dengan dasar kecerdasan paripurna yang ditambah berbagai bumbu dai para maestro training dunia.

Maka jadilah saya memberikan taining setengah hari, yaitu mulai dari selesai Jumatan sampai pukul 18. Pesertanya sekitar 600an. Dan biasa namanya mahasiswa banyak yang ngak serius, ngobrol sendiri, atau malah tidur. api alhamdulillah berkat pengalaman lapangan setiap ospek yang melibatkan peserta sampai 1500 bahkan sampai 2000 seperti di Univesitas Kanjuruhan Malang atau Universitas Pancasila, jadi ya enteng-enteng saja mengatasi masalah tersebut. Intinya ya pakai ilmu-ilmu boleh NLP boleh lainnya, yang penting adalah bagaimana kita sebagai trainer bisa menyamakan frekuensi kita dengan mereka, terus pacing…pacing…pacing, nah lama-lama leading. Hasilnya samai akhir acara, nggak ada satupun mahasiswa yang meningalkan acara. Bahkan ada seorang mahasiswa yang confess, mau kencing saja ditahan, karena takut ada bagian yang hilang dari training saya.

Meskipun sifatnya amal, ternyata Tuhan Maha Adil. Ada beberapa peserta yang bekerja pada beberapa perusahaan besar yang mengenalkan saya pada bosnya, dan akhirnya jadi klien saya sampai sekarang.

Training “Kecerdasan paripurna” calon karyawan PT. Jamsostek

PT. Jamsostek ada;ah sa;ah satu klien saya. Sebetulnya dulu waktu saya masih menjadi Direktur Utama sebuah perusahaan konsultan IT, PT. Sendang Rekayasa, PT. Jamsostek juga sudah menjadi klien saya via perusahan tersebut, tetapi dalam bidang IT.

Saya dengan tim waktu itu melakukan rescue ketika menghadapi masalah komputasi tahun 2000 yang dikenal sebagai “millenium bug”. Kemudian saya juga menjadi konsultan implementasi Sistem Informasi Pelayanan Terpadu (SIPT).

Tetapi dalam urusan ini saya nggak ceria dulu soal IT, tetapi training yang diminta oleh PT. Jamsostek untuk para calin karyawannya. Materi yang saya berikan adalah “Kecerdasan paripurna”, yang melatih empat kecerdasan manusia yaitu kecerdasan fisik (PQ), kecerdasan otak (IQ), kecerdasan hati (EQ), dan kecerdasan jiwa (SQ).

Mengingat banyaknya peserta dn supaya pelatihannya efektif, peserta dibagi menjadi 6 angkatan.

Peserta training Jamsostek lagi asyik menari

Mengingat ternyata setelah dua angkatan pimpinan Jamsostek melihat sendiri efektivitasnya, maka dibuat acara training mendadak yang pesertanya adalah para karyawan yang akan promosi menduduki jabatan eselon 1 di PT. Jamsostek.

Setiap selesai training, lagi-lagi saya menerima puluhan SMS yang memberikan apresiasi kepada saya. Semua SMS saya simpan. Selain itu smpai sekarang saya masih sering menerima SMS dari mereka berisi mulai dari “just to say hello” sampai yang curhat soal macem-macem. Wah, terpaksalah jadi psikolog gadungan, tapi ajaibnya koq ya manjur ya…

Training motivasi calon anggota legislatif PAN Sumatra Barat

Sumatra Barat adalah DPW pertama yang telah menyelesaikan pencalegan dininya dan pada tanggal 15 Juni 2008 DPW Sumbar mengadakan training motivasi pemenangan pemilu di Hotel Pangeran.

Training dibuka langsung oleh Sekretaris Jenderal Partai Amanat Nasional Zulkifli Hasan dan juga dihadiri oleh Bendahara Umum PAN Asman Abnur. Dari Jakarta saya berangkat bersama mereka dengan Garuda yang paling pagi, yaitu depart pukul 06.00. Tetapi rupanya biar Garuda mahal, bisa delay juga, dan akhirnya baru pukul 07.15 berangkat.

Tiba di Padang kami dijemput oleh Ketua DPW PAN Sumbar, pak Asli Chaidir, dan karena sudh terlambat maka langsung ke hotel tempat acara.

Peserta sedang menikmati dihipnotis

Seteah Sekjen membuka dan memberi pengarahan, maka giliran saya manggung. Saya bawakan training saya berupa versi mini dari “We are the champions” yang dimodifikasi khusus untuk PAN. Meskipun menurut peserta trainingnya bagus banget (…gitu loh…), saya sendiri kurang puas. Sebetulnya saya sudah minta agar peserta lesehan atau kalau pakai kuri agak jarang-jarang, tetapi mungkin karena pesertanya mencapai 650an orang jadi ya terpaksa aak mepet-mepetan. Akibatnya banyak kegiatan permainan yang tidak dapat dilaksanakan. Walhasil, saya harus teriak-teriak terus-menerus selama 6 jam.adahal kalau ada permainan kan bisa istirahat teriaknya boo…

Malamnya ada berita duka, yaitu salah seorang anggota DPR Propinsi dari Fraksi PAN yang juga salah seorang Ketua DPD wafat. Maka meskipun capai kami kemudian melayat ke rumah duka di Solok bersama-sama Ketua DPW. Pulangnya mampir makan malam di jalan dan terus ke hotel, karena besoknya, Senin pagi-pagi saya harus sudah di Jakarta. Biasa tugas rutin yaitu ngajar.

Training Kader Madya Partai Amanat Nasional di Banda Aceh

Rapimwil dan LKAM DPW PAN NAD

Saya sudah mengunjungi 25 dari 33 propinsi di Indonesia dan hampir 260an kabupaten/kota dalam rangka seminar, training, maupun jalan-jalan. Nanggro Aceh Darussalam adalah propinsi yang kali ini baru pertama kali saya kunjungi.

Saya diundang oleh Dewan Pimpinan Wilayah Partai Amanat Nasional untuk memberikan satu sesi motivasi kepada peserta Latihan Kader Madya Partai Amanat Nasional, yang terdiri dari pengurus-pengurus DPW dan DPD-DPD di DPW NAD.

Rumah penduduk pasca tsunami

Di Bandara saya merasa sangat terhormat sekali karena dijemput oleh Ketua DPW PAN NAD yaitu pak Azwar Abubakar, yang dulu pernah jadi Wakil Gubernur Aceh. Oleh beliau saya diajak jalan-jalan dulu melihat Banda Aceh, terutama melihat-lihat daerah-daerah yang dulu terkena tsunami.

Kampung Persahabatan Indonesia Tiongkok

Saya juga diajak melihat-lihat kompleks perumahan resetlement korban tsunami. Ada satu kompleks yang menarik bagi saya sebagai Ketua Dewan Pakar Perhimpunan Persahabatan Antarbangsa Indonesia Cina, yaitu kompleks yang diberi nama Kampung Persahabatan Indonesia Tiongkok.

Nah kalau saja semua bangsa di dunia ini bersahabat, maka damailah dunia ini, kata John Lennon.

Acara motivasi peserta latihan kader dilaksanakan mulai setelah shalat Isya’ sampai tengah malam. Materi yang saya bawakan adalah versi mini dari “We are the champions”. Pada acara kontemplasi, sebagian besar peserta menangis. Bahkan Ketua Badan Pemenangan Pemilu DPW NAD, Tun Azhari, sedikit terhanyut sampai agak histeris. Tapi di akhir acara ketika semangatnya semua sudah terbakar, teriakannya sangat menggelegar. Saya lihat kalau waktu itu saya teruskan dan peserta saya minta merobohkan pagar gedung DPR, bakal robohlah pagar tersebut, saking semangatnya mereka.

LKAM DPW NAD

Karena itu untuk menutup acara saya tenangkan kembali dengan proses meditasi dan relaksasi, sekaligus menanamkan jangkar ke bawah sadar mereka, yang akan mereka gunakan nanti waktu kampanye.

Malamnya saya diajak makan es krim yang enak banget di Banda Aceh sana oleh mbak Dewi Coriyati. Besok paginya saya dijamu sarapan oleh Ketua DPW Azwar Abubakar di rumah beliau. Banyak makanan yang enak-enak dan aneh-aneh. Tetapi karena saya harus buru-buru balik Jakarta karena besoknya saya harus ke Padang memberi training para caleg se Sumatra Barat maka nggak semua makanan dinikmati. Tun Azhari membelikan oleh-oleh untuk istri saya kain tenun Aceh warna hijau yang cantik sekali. Jadi kalau istri saya lagi pakai kain tersebut, saya jadi ingat Aceh kembali.