Pada tanggal 31 Juli 2009 saya diundang untuk memberikan motivasi pada Rakernas Persatuan Penyandang Cacat Indonesia (PPCI) di Asrama Haji Bekasi. Bayangan saya sebelum saya tiba di lokasi, karena pesertanya adalah para pengurus PPCI se Indonesia, maka kira-kira pakem training standard dengan musik, film, teriak-teriak, meditasi, sedikit permainan stage hypnotist, bisa saya terapkan.
Tiba di lokasi, saya ditemui oleh mas Gufron Sakaril, teman lamaa saya yang jadi Humas di Indosiar. Beliau adalah salah seorang penyandang cacat yang jadi pengurus PPCI. Saya kagum dengan prestasi beliau, meskipun menyandang cacat, tapi prestasinya hebat. Saya juga salut dengan Indosiar yang bisa menerima mas Gufron sebagai Kepala Humasnya.
Nah, masalahnya begini. Ketika saya dikenalkan dengan para peserta, saya terkejut sekali, karena mereka menyandang cacat yang berbeda-beda. Ada yang cacat anggota tubuh, ada yang cacat penglihatan, ada yang tuna rungu, ada yang tuna wicara, ada yang terbelakang, dan bermacam-macam lainnya.
Maka terpaksalah otak diputar untuk mencari pendekatan yang bisa diterapkan pada kondisi yag sangat heterogen seperti ini. Bayangkan saja, musik maupun sound system caggih nggak mempan untuk yang tuna rungu, demikian juga kalimat-kalimat dan teriakan-teriakan motivasi. Film yang inspiratif yang bisa membuat orang menangis atau bertepuk tangan, nggak bisa dilihat oleh pesert yang tidak bisa melihat. Gerakan-gerakan permainan, tarian, dan aktivitas fisik tidak bisa dilakukan oleh peserta yang cacat anggota badan. Wah, piye iki….?
Akhirnya saya menggunakan teknik motivasi yang paling generik, yaitu berpusat kembali hanya kepada trainer, sehingga semua peserta bisa ikut aktivitas selama sehari penuh tanpa ada satupun yang beranjak meninggalkan tempat. Terbukti bahwa prinsip dasar para trainer bahwa komputer, layar, musik, dan berbagai teknologi hanya aksesoris saja. Seorang trainer sejati harus bisa hebat tanpa itu semua, karena alat utama dari trainer sejati adalah dirinya sendiri.
Di akhir acara, peserta menyalami dan memeluk saya,bahkan ada yang menangis, karena baru pertama kali mendapat motivasi hidup yang luar biasa katanya.
Berikutnya, panitia langsung membook saya untuk memberikan motivasi di pertemuan internasional penyandang ccat di Bngkok akhir tahun ini. Wah? Tambah lagi problemnya deh, yaitu kultur dan bahasa. Kalau cuma bahasa Inggris mah gampang karena sudah seperti bahasa ibu saya saja, tapi peserta dengan bahasa ibu lainnya bagaimana ya nanti? Ya udahlah, biar nanti sajalah dipikirkan….

Masih di bulan puasa, pada tanggal 21 September 2008, saya diundang untuk memberikan motivasi pada mahasiswa baru Universitas Kanjuruhan, Malang. Di universitas ini saya tercatat sebagai Guru Besar Luar Biasa dan anggota Dewan Kurator. Training ini setiap tahun saya lakukan dalam rangka program orientasi mahasiswa baru sejak tahun 2006, bukan hanya di Universitas Kanjuruhan saja, tetapi di berbagai universitas di Indonesia.













