Pada tanggal 22 Januari 2010 saya bersama-sama Dr. Onno W. Purbo (pakar TI), dan Dr. Agung Harsoyo (dari ITB) diundang oleh Komisi X untuk Rapat Dengar Pendapat (RDP) tetang Jejaring Pendidikan Nasional (Jardiknas). Beberapa kali sebelumnya saya pernah jadi narasumber RDP terutama menyangkut masalah-masalah pendidikan atau masalah-masalah sekitar teknologi informasi.
Untuk keperluan tersebut saya sengaja tidak menyiapkan PowerPoint untuk presentasi atau makalah tertulis, tetapi membuat gambaran soal Jardiknas ini dalam bentuk sebuah MindMap seperti di bawah ini.

Ketika saya tiba di depan ruang Komisi X mengisi daftar hadir, beberapa anggota Dewan yang juga mengisi daftar hadirpun oleh staff sekretariat diberi SATU lembar kertas yang berisi gambar MindMap saya tersebut.
Saya mendengar beberapa komentar yang isinya adalah komplain koq bahan dari seorang profesor hanya selembar kertas yang isinyapun cuma corat-coret yang nggak karuan isinya.
Mendengar celetukan tersebut saya hanya tersenyum saja. Pasti yang nyeletuk itu tidak paham bahwa MindMap adalah representasi yang lebih powerfull dibandingkan slide atau tulisan.
Sambil menunggu RDP, ternyata sempat ada “reuni” ITBan, karena semua narasumber alumni ITB semua, dan beberapa anggota Komisi X juga alumni ITB. Mungkin ini jenis alumni ITB yang dulu waktu kuliah pacaran sama mahasiswi IKIP Bandung makanya pada jadi ahli pendidikan ya.
Ketika RDP dimulai, setelah dibuka oleh Ketua Sidang Abdul Hakam Naja, teman lama saya, maka saya dapat giliran bicara paling dulu karena katanya rambutnya paling banyak putihnya.
Sebelum saya memulai paparan, ada interupsi dari seorang anggota Dewan yang memprotes bahan saya yang katanya hanya corat-coret saja. Saya jawab dengan menjelaskan bahwa yang “corat-coret” tersebut adalah sebuah MindMap. Sengaja saya buat dalam bentuk MindMap sehingga kalau tidak menyimak penjelasan saya pasti susah memahami apa yang ada di dalam “corat-coret” tersebut. Jadi terpaksalah anggota Panja Jardiknas ini dengan serius menyimak “unjuk akal” saya.
Saya mulai dengan menjelaskan bahwa TIK (teknologi informasi dan komunikasi) adalah sesuatu yang penting, pendidikan juga sesuatu yang penting. Karena itu pemanfaatan TIK untuk pendidikan adalah sesuatu yang sangat penting. Saya juga sampaikan premis favorit saya soal seperti ini yaitu “teknologi merupakan salah satu pilar kemajuan, tanpa teknologi tidak akan pernah tercapai kemajuan”.
TIK sangat berperan dalam pendidikan melalui 3 hal, yaitu meningkatkan kualitas, memperluas akses pendidikan, dan meningkatkan kualitas tatakelola pendidikan. Dengan demikian Jardiknas adalah sesuatu yang sangat penting dan strategis untuk kemajuan pendidikan bangsa. Karena itu Jardiknas harus dirancang dan diimplementasikan dengan baik. Kenapa?
Menurut penelitian, pemanfaatan TIK di negara-negara maju maupun negara-negara berkembang menunjukkan korelasi yang positif dengan peningkatan kualitas pendidikan yang diukur dari prestasi murid-muridnya. Sekolah-sekolah yang pemanfaatan TIKnya tinggi ternyata murid-muridnya lebih berpretasi dibandingkan dengan murid-murid dari sekolah yang pemanfaatan TIKnya rendah. Tetapi hanya terjadi jika dipenuhi 3 syarat, yaitu:
1. Rasio antara komputer terhadap murid tidak lebh dari 1:8 (SD) dan 1:4 (SMP dan SMA)
2. Penggunaan TIK mencakup tidak kurang dari 70% kegiatan belajar mengajar dan TIK terintegrasi dengan kurikulum
3. Murid-murid disamping memiliki akses terhadap TIK baik ”ON SCHOOL” maupun “OFF SCHOOL”
Artinya, jika ke tiga syarat tersebut tidak terpenuhi maka dampak TIK terhadap peningkatan kualitas pendidikan mungkin tidak akan tercapai.
Kemudian saya paparkan tentang masalah-masalah Jardiknas yang saya dapatkan dari berbagai sumber, yaitu
1. Masalah politis, yaitu proses perpindahan Jardiknas dari Biro PKLN ke Pustekkom yang tidak “smooth” sehingga menimbulkan kesan kudeta atau perampasan. Ini kemudian menyebabkan terjadinya “perlawanan” dari para pionir dan relawan Jardiknas versi awal, baik fisik di lapangan maupun di dunia maya dalam bentuk blog dan komentar-komentar blog serta media online.
2. Masalah infrastruktur. Jardiknas tidak punya infrastruktur sendiri, tetapi menyewa ke salah satu provider/ISP. Karena jumlah titik yang sangat banyak (18 ribu SD/SMP) dan 7 ribuan SMA), maka Pustekkom tidak bisa memonitor jaringan yang sangat besar ini karena tidak memiliki alat yang memadai, sehingga jika providernya nakal karena ingin untung besar atau karena harga sewanya murah sehingga dilakukan penurunan service level, maka Pustekkom tidak akan bisa mengendalikan dan mengatasi masalah ini.
3. Masalah konten. Jardiknas ditumpangi dengan bebagai konten yang tidak semuanya dibuat oleh Pustekkom. Selain jumlahnya yang baru sedikit, tetapi kualitasnya juga rendah sehingga tidak dapat dimanfaatkan dalam kegiatan belajar mengajar (KBM). Bahkan konten andalannya, yaitu Buku Sekolah Elektronis (BSE) pun di banyak tempat sulit untuk diakses.
4. Masalah SDM, baik internal Pustekkom sendiri maupun di sekolah-sekolah yang terhubung Jardiknas. Di Pustekkom, personil yang terlibat dalam Jardikas ini hamoir semuanya adalah orang TIK yang kurang memahami aspek-aspek pendidikan, sehingga melihat TIK hanya sebagai peralatan saja, tidak melihat TIK sebagai “enabler” dalam KBM. TIK sebagai media baru memiliki karakteristk yang sangat berbeda dengan media-media konvensional lainnya seperyi televisi, audio visual, buku, dan lainnya. Selain itu juga SDM di lokasi titik-titik Jardiknas banyak yang tidak memadai. Pada era awal Jardiknas, karena sifatnya adalah kegiatan komunitas, maka prosesnya adalah “bottom-up participatory approach”, sehingga meskipun skalanya tidak bisa masif, tetapi tidak ada kendala SDM di lapangan. Ketika Jardiknas pindah ke Pustekkom, karena dianggap proyek pemerintah pusat, maka pendekatannya menjadi “top-down”, sehingga dukungan komunitas hilang. Akibatnya Pustekkom harus melakukan pelatihan-pelatihan untuk SDM di lapangan. Karena anggaran pelatihannya sangat sedikit atau hampir tidak ada, maka akibatnya terjadi masalah terhadap SDM pendukung di lapangan.
5. Masalah manajemen. Masalah ini terjadi di suprastruktur Pustekkom, di dalam Pustekkom, dan di sekolah-sekolah yang tehubung Jardiknas. Masalah suprastruktur Pustekkom adalah masalah manajemen dan organisasi di Depdiknas sendiri. Pustekkom yang fungsinya hanya sebagai penyedia koneksi tentu saja tidak dapat mengendalikan aspek-aspek lain dalam pemanfaatan TIK untuk pendidikan, misalnya penyediaan komputer di sekolah-sekolah dan penyediaan konten pembelajaran ada di unit lain yang di luar kendali Pustekkom. Akibatnya, meskipun jaringan sudah digelar, Pustekkom tidak memiliki otoritas yang memadai untuk memaksa jaringan Jardiknas digunakan oleh sekolah-sekolah. Karena keterbatasan otoritas ini juga menyebabkan akhirnya investasi Jardiknas yang sangat mahal tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap peningkatan kualitas KBM. Seharusnya untuk masalah sepenting ini, Jardiknas harus dikelola oleh level eselon 1 yang mengkoordinasikan eselon 2 yang membidangi infrastruktur, konten, SDM (guru) dan pengembangan SDM (guru) yang mampu memanfaatkan TIK dalam KBM, strategi pendayagunaan TIK dalam KBM, dan beberapa unit pendukung lainnya. Saat ini, yang membidangi infrastruktur jaringan adalah Pustekkom, tetapi infrastruktur lain seperti komputer, listrik, gedung, dll ada di unit lain. Demikian juga konten, SDM, strategi ada di unit-unit lain bahkan ada di direktorat jenderal lain-lain.
Untuk mengatasi masalah-masalah tersebut, maka dalam RDP saya mengusulkan hal-hal berikut:
1. Kordinasi dengan Dewan TIK Nasional (Detiknas), terutama mensinkronkan 2 dari 7 flagship Detiknas, yaitu Pala Ring sebagai backbone Jardiknas, dan e-Edukasi sebagai suprastruktur konsep Jardiknas.
2. Melakukan survei dan pemetaan terhadap titik-titik Jardiknas untuk mengetahui dengan jelas titik-titik yang berjalan dengan baik dan yang tidak berjalan dengan baik beserta dengan kendala-kendalanya. Untuk sementara lebih baik Jardiknas tidak dikembangkan dulu lebh lanjut, tetapi anggaran digunakan untuk lebih meningkatkan dayaguna dari titik-titik Jardiknas yang sudah dipasang.
3. Membuat sebuah rencana strategis (RENSTRA) pemanfaatan TIK dalam peningkatan kualitas, perluasan akses, dan peningkatan tatakelola pendidikan secara menyeluruh. Dalam membuat renstra ini kita bisa belajar dari pengalaman negara-negara lain yang telah memanfaatkan TIK untuk pendidikan, sehingga kita bisa memodifikasi dan menerapkannya sesuai dengan kondisi Indonesia. Termasuk dalam renstra ini adalah rancangan struktur organisasi yang akan mengimplementasikan pemanfaatan TIK untuk pendidikan sehingga organisasi ini memiliki otoritas yang memadai. Dalam renstra ini juga fokus tidak hanya terhadap output (jumlah titik terapasang, jumlah server, jumlah teknisi, dll), maupun outcome (jumlah guru yang bisa Internet, jumlah blog yang dibuat guru atau murid, jumlah data yang sudah diupload ke server, dll), tetapi yang todak kalah pentingnya adalah dampak atau “impact”, misalnya peningkatan nilai ujian nasional, peningkatan juara-juara lomba ilmiah seperti olimpiade sains atau matematika, dll. Fokus terhadap dampak inilah yang belum nampak dari pemanfaatan TIK dalam pendidikan di Indonesia, khususnya Jardiknas, yang selalu menjadi pertanyaan para anggota DPR setiap tahun anggaran.
4. Merubah paradigma KBM dengan mengintegrasikan TIK dalam KBM, sehingga TIK bukan hanya digunakan untuk belajar TIK saja, tetapi mendukung semua proses KBM untuk semua mata pelajaran secara terpadu.
Setelah saya memberikan “unjuk akal” saya, kemudian Dr. Onno Purbo melanjutkan dengan pengalaman lapangannya, dan Dr. Agung menambahkan dengan tambahan-tambahan lainnya.
Sete;ah melalui tanya-jawab yang “gayeng”, nggak seperti yang kita lihat di Pansus Century, sebelum Ketua Rapat menutup RDP, kami diminta membuat sebuah statemen akhir. Statemen akhir saya adalah:
“Jardiknas, apapun keadaanya sekarang adalah sebuah realita. Jika kita ibaratkan dalam peribahasa, nasi sudah menjadi bubur. Tetapi nasi yang sudah menjadi bubur tidak perlu kita sesali dan jangan dibuang. Mari kita bersama-sama menambahkan potongan ayam, telur, kacang, krupuk, kaldu, dan kecap, sehingga bubur ini jadi bubur ayam, yang lebih enak daripada nasi. Kita semua berkewajiban menjadikan bubur ini jadi bubur ayam yang enak dan bermanfaat. Mari kita jadikan Jardiknas yang ada sekarang lebih bermanfaat dalam mencerdaskan bangsa”
Rapat kemudian ditutup oleh Ketua dengan guyonan “Dari TIK ternyata bisa berubah jadi bubur ayam”. Nah lho………..????