Masih di bulan puasa, pada tanggal 21 September 2008, saya diundang untuk memberikan motivasi pada mahasiswa baru Universitas Kanjuruhan, Malang. Di universitas ini saya tercatat sebagai Guru Besar Luar Biasa dan anggota Dewan Kurator. Training ini setiap tahun saya lakukan dalam rangka program orientasi mahasiswa baru sejak tahun 2006, bukan hanya di Universitas Kanjuruhan saja, tetapi di berbagai universitas di Indonesia.
Nah, pengalaman training kali ini unik. Bukan soal teriak-teriak di bulan puasa yang sudah bisa saya atasi dengan teknik seperti yang telah saya ceritakan di sini, tetapi terjadinya fenomena kesurupan…..what….kesurupan?….yes, benar, k-e-s-u-r-u-p-a-n.
Seperti biasa dalam training “We are the champions” saya ada sesi kontemplasi. Dengan teknik hipnosis, saya bawa 2000an mahasiswa untuk mengingat kembali perjalanan hidup mereka dari lahir sampai mereka menjadi mahasiswa, terutama hubungan dengan ke dua orang tua mereka. Yang pernah ikut training saya memberi label sesi ini dengan sesi “nangis-nangis” gitu loh….Dan memang, seperti biasa, hampir sebagian besar peserta menangis, bahkan ada beberapa yang histeris.
Nah, ceritanya, dari ratusan peserta yang histeris, ada sekitar 50an yang histerisnya luar biasa, sampai (sepertinya) kesurupan.
Ketika sesi selesai, puluhan mahasiswa masih dalam kondisi “kesurupan” ini. Maka acara saya skors, dan mulailah tim medis turun untuk menangani mereka. Ada yang sebentar saja sudah dapat diatasi, ada yang lama. Tetapi sampai selesai acara waktu break sholat dhuhur ternyata masih ada sekitar 15an yang masih kesurupan. Well, benar, kesurupan, karena mereka berteriak-teriak dan mengamuk dengan kekuatan yang luar biasa.
Wah, saya jadi bingung nih. Koq bulan puasa begini masih bisa kesurupan ya?
Karena tim medis belum berhasil mengatasi, maka terpaksalah sang trainer ini turun tangan sendiri. Berbagai cara saya gunakan, mulai pakai tenaga dalam yang dulu saya pelajari waktu di dunia persilatan, Reiki, baca ayat Qursyi, pakai ketok-ketok ala EFT, dan macam-macam jurus terpaksa saya gunakan.
Ada yang dengan tenaga dalam yang saya salurkan via telapak kaki mereka terus bisa disadarkan, ada yang harus pakai Reiki baru bisa, ada yang pakai tappin ala EFT baru bisa, ada yang dibacakan ayat Qursyi sambil “dipotong” lehernya pakai telapak tangan, dan macam-macam lah.
Selain itu dipanggil juga seorang Kyai yang kemudian ikut menangani, terutama kasus-kasus yang berat.
Akhirnya, semua bisa diatasi, hanya tinggal dua orang yang masih tertawa terbahak-bahak dan mengamuk. Satu laki-laki satu perempuan. Nah, saya dengan pak Kyai bagi tugas, dan saudara-saudara…tentu saja saya pilih yang cewek donk.
Maka mulailah semua jurus dan semua ilmu dikeluarkan, eh…tenyata nggak mempan. Ketika dibacakan ayat Qursyi, ternyata si mahasiswi, yang cewek ini malah bisa membaca dengan hafal, dan suaranya suara laki-laki (cowok). Wah, saya yang tadinya agak kurang percaya sama yang gini-gini, ternyata harus menyaksikan dan berurusan dengan hal-hal beginian.
Karena semua jurus ternyata gagal total, sama minta pak Kyai untuk turun tangan, eh…nggak berhasil juga. Si mahasiswi tetap ngamuk dan berteriak-teriak.
Akhirnya saya coba jurus lain dari ilmu NLP, ya benar, ilmu NLP. Saya coba berbicara dengan si mahasiswi yang kesurupan cowok ini. Saya ajak ngobrol alias berdialog.
Dia bilang asalnya dari Mataram, wah, kaget juga saya karena seminggu sebelumnya saya dari Mataram, jangan-jangan ikut saya dia…sereemm amat…Alhamdulillah ternyata tidak, dia memang tinggal di dalam aula tempat acara motivasi sudah lama katanya, sejak sebelum gedung tersebut dibangun.
Saya tanya juga kemapa koq ganggu mahasiswi saya, dia menhgatakan bahwa dia marah karena si mahasiswi waktu histeris tadi melemparkan kursi dan mengenainya.
Wah, kalau begini saya pikir masalahnya sederhana saja. Maka saya bilang saya minta maaf atas kelakuan mahasiswi saya tadi ya, dan kasihan dia sudah sangat lelah. Apa jawabnya?
“Nah, dari tadi kalau minta maaf kan selesai masalahnya, pak profesor nggak usah pakai macam-macam tenaga dalam segala”, katanya. Wah, kaget lagi saya, koq tahu pakai tenaga dalam.
“Udah ya, tolong kasih tahu mahasiswa-mahasiswanya pak profesor, lain kali sopan dikit lah, jangan brangasan”, lanjutnya.
Saya bilang, “Iya deh, nanti saya bilang mereka, sekali lagi saya minta maaf ya”.
Akhirnya dia bilang “Baik, saya akan pergi, tapi diiringi sama shalawat ya….”. Ketika dibacakan shalawat, tubuh si mahasiswi ini terasa menjadi dingin dan lemas. Beberapa saat kemudian dia sadar kembali.
Habis peristiwa ini saya jadi ingat jagoan favorit saya ketika SD dulu dari karya mbah Kho Ping Hoo, yaitu Bu Kek Siansu (jagoan tak terkalahkan), yang bisa mengalahkan jago-jago silat jahat dengan kelembutan dan maaf. Dalam bahasa Jermannya, “suro diro joyo ningrat, lebur dening pangastuti”, yang terjemahan bebasnya adalah “kekuatan dan kekerasan apapun akan kalah dengan kasih sayang dan kelembutan”

