Training Kader Madya Partai Amanat Nasional di Banda Aceh

Rapimwil dan LKAM DPW PAN NAD

Saya sudah mengunjungi 25 dari 33 propinsi di Indonesia dan hampir 260an kabupaten/kota dalam rangka seminar, training, maupun jalan-jalan. Nanggro Aceh Darussalam adalah propinsi yang kali ini baru pertama kali saya kunjungi.

Saya diundang oleh Dewan Pimpinan Wilayah Partai Amanat Nasional untuk memberikan satu sesi motivasi kepada peserta Latihan Kader Madya Partai Amanat Nasional, yang terdiri dari pengurus-pengurus DPW dan DPD-DPD di DPW NAD.

Rumah penduduk pasca tsunami

Di Bandara saya merasa sangat terhormat sekali karena dijemput oleh Ketua DPW PAN NAD yaitu pak Azwar Abubakar, yang dulu pernah jadi Wakil Gubernur Aceh. Oleh beliau saya diajak jalan-jalan dulu melihat Banda Aceh, terutama melihat-lihat daerah-daerah yang dulu terkena tsunami.

Kampung Persahabatan Indonesia Tiongkok

Saya juga diajak melihat-lihat kompleks perumahan resetlement korban tsunami. Ada satu kompleks yang menarik bagi saya sebagai Ketua Dewan Pakar Perhimpunan Persahabatan Antarbangsa Indonesia Cina, yaitu kompleks yang diberi nama Kampung Persahabatan Indonesia Tiongkok.

Nah kalau saja semua bangsa di dunia ini bersahabat, maka damailah dunia ini, kata John Lennon.

Acara motivasi peserta latihan kader dilaksanakan mulai setelah shalat Isya’ sampai tengah malam. Materi yang saya bawakan adalah versi mini dari “We are the champions”. Pada acara kontemplasi, sebagian besar peserta menangis. Bahkan Ketua Badan Pemenangan Pemilu DPW NAD, Tun Azhari, sedikit terhanyut sampai agak histeris. Tapi di akhir acara ketika semangatnya semua sudah terbakar, teriakannya sangat menggelegar. Saya lihat kalau waktu itu saya teruskan dan peserta saya minta merobohkan pagar gedung DPR, bakal robohlah pagar tersebut, saking semangatnya mereka.

LKAM DPW NAD

Karena itu untuk menutup acara saya tenangkan kembali dengan proses meditasi dan relaksasi, sekaligus menanamkan jangkar ke bawah sadar mereka, yang akan mereka gunakan nanti waktu kampanye.

Malamnya saya diajak makan es krim yang enak banget di Banda Aceh sana oleh mbak Dewi Coriyati. Besok paginya saya dijamu sarapan oleh Ketua DPW Azwar Abubakar di rumah beliau. Banyak makanan yang enak-enak dan aneh-aneh. Tetapi karena saya harus buru-buru balik Jakarta karena besoknya saya harus ke Padang memberi training para caleg se Sumatra Barat maka nggak semua makanan dinikmati. Tun Azhari membelikan oleh-oleh untuk istri saya kain tenun Aceh warna hijau yang cantik sekali. Jadi kalau istri saya lagi pakai kain tersebut, saya jadi ingat Aceh kembali.

Training “Mengajar dengan kecerdasan hati dan spiritual” guru-guru di Bengkalis

Sabtu, 7 Juni 2008, saya berangkat dengan Garuda, seperti biasa buat nambah mileage saya, dari Jakarta ke Pekanbaru karena diundang oleh Pemda Bengkalis untuk memberikan training kepada guru-guru di Bengkalis. Bengkalis menjadi kota ke 262 dari 450an kabupaten/kota Indonesia yang telah saya kunjungi.

Suasana di ferry

Setelah mendarat di Pekanbaru, saya dijemput oleh staff dan kemudian menuju terminal ferry Pekanbaru. Perjalanan ke Bengkalis rupanya harus menggunakan kapal menyusuri Sungai Siak.

Saya tidak mengira kalau perjalanan dengan ferry ini cukup panjang juga, hampir 5 jam saya di ferry.

Sepanjang Sungai Siak

Sepanjang jalan, atau sepanjang sungai kali yah, menyusuri Sungai Siak yang berliku-liku dan membosankan. Untung penyakit lama saya yaitu nggak bisa tidur di kendaraan bergerak sudah hilang sejak saya memakai gelang magnetik bermerek Casio alias dikasih orang. Kadang-kadang saja terbangun dan melihat kanan-kiri hutan lebat. Jadi ingat filem-filem petualangan. Mungkin kayak gini ya asyiknya.

Hotel Panorama

Sesampai di Bengkalis saya langsung ke hotel Panorama. Hotelnya kecil saja, tapi memang Bengkalis meskipun kabupaten kaya tetapi karena letaknya di pulau terpencil maka ya kotanya kecil saja. Hampir nggak ada mobil di sana. Adanya ya motor dan becak.

Besok paginya pukul 07:00, sebelum acara training dimulai, saya diajak ke rumah Bupati Bengkalis, yaitu pak Syamsurizal. Rumah dinasnya wah…..megah banget. Pak Bupati nampaknya habis berolah-raga. Meskipun masih keringetan, pak Bupati menyambut kami dengan ramah. Kami bincang-bincang banyak hal, di antaranya anggaran pendidikan Kabupaten Bengkalis yang mencapai Rp. 400 milyar. Waaaahhh….banyak sekali untuk kota sekecil Bengkalis.

Rumah dinas Pak Bupati

Dari bincang-bincang tersebut, saya surprise juga dengan ide-ide pendidikan Pak Bupati yang tergolong revolusioner, misalnya dari SD harus sudah menguasai bahasa Inggris, soal-soal ulangan atau ujian tidak lagi pilihan ganda tetapi essay, anak-anak sekolah bebas seragam, dan lain-lain. Nggak heran, rupanya beliau sedang menyelesaikan program doktoralnya di Malaysia, pantesan pandangannya luas. Saya katakan kepada beliau dengan ide-ide besar dan dukungan keuangan yang tersedia pasti gampang kan terlaksana. Tetapi beliau mengluhkan kualitas SDM yang kurang mampu mengimplementasikan pikiran-pikiran besarnya. Buntut-buntutnya, beliau menawarkan saya agar sering-sering berkunjung ke Bengkalis dan berdiskusi dengan beliau, atau kalau mau sekalian diangat jadi konsultan karena beliau bercita-cita punya universitas. Sayangnya mengingat komitmen-komitmen saya yang seabrek-abrek saya terpaksa menolak tawaran beliau.

Peserta training

Dari kediaman pak Bupati kemudian pukul 09:00 kami menuju tempat training. Tempatnya lumayan bagus, pesertanya lumayan banyak juga sekitar 400an guru. Acara dibuka oleh pak Bupati yang memberi sambutan.

Acara training berjalan mulus, pesertanya sangat terlibat dan nggak malu-malu. Waktu acara kontemplasi banyak yang nangis tapi nggak sampai histeris.

Selesai training seperti ritual yang biasa, peserta banyak yang minta foto bareng. Yang membuat saya agak surprise adalah ketika beberapa di antara peserta yang minta foto mengatakan bahwa selama ini mereka belum pernah ketemu muka sama seorang profesor, biasanya profesor cuma kelihatan di TV saja.

Foto bersama panitia

Dari catatan saya, sertifikat “Mengajar dengan kecerdasan hati dan spiritual” yang saya tanda-tangani sejakF materi ini saya berikan sampai hari itu sudah mencapai 65.348 (enampuluh lima ribuan). Ternyata banyak juga ya, untung nggak sekaligus, dan untung karena pengabdian saya untuk guru jadi saya nggak jadi kaya raya harta karena program ini.

Tapi saya senang sekali dengan acara ini. Apalagi ternyata panitia dan oran-orang Bengkalis ramah-ramah. Sepulang dari Bengkalis saya mendapat puluhan SMS yang menyatakan terimakasih mereka dan mereka ingin lagi ada training semacam itu. Dan seperti biasa, ada juga satu-dua SMS yang nyeleneh, resiko jadi trainer lah.