Menyambut Generasi Emas Indonesia 2045

image

 

Reorientasi Pendidikan Indonesia

Dalam Rangka Menuju Abad Emas Indonesia

oleh

 

Marsudi Wahyu Kisworo

Email: marsudi.kisworo@gmail.com

HP : 0818-888-537

 

 

Pendahuluan

Sejarah membuktikan bahwa pada abad ke tujuh Masehi, Kepulauan Nusantara pernah mengalami masa kejayaannya ketika pengaruh keemasan Kerajaan Sriwijaya dirasakan mulai dari Hawai di sebelah timur sampai ke India di sebelah barat. Kekayaan alam Nusantara menjadi daya Tarik berbagai bangsa sedangkan kekuatan sumber daya manusianya dihormati oleh bangsa-bangsa besar dunia. Bahkan para pelajar dari India datang ke Sriwijaya untuk belajar agama Budha.

Tujuh abad setelah melemahnya Sriwijaya, pada abad ke 14 Nusantara kembali bersinar ketika Kerajaan Majapahit dipimpin oleh Raja Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada. Dengan Sumpah Palapanya, Gajah Mada berhasil mempersatukan bukan hanya daerah yang saat ini disebut Indonesia saja, tetapi termasuk daerah-daerah sekitarnya yang menjadi Nusantara Raya. Kekuatan Majapahit ditunjukkan dengan mengirimkan berbagai ekspedisi militer ke negara-negara Indo China dengan hasil gemilang. Kekuatan Majapahit bahkan menggentarkan imperium terbesar dalam sejarah, Imperium Cina Mongol yang pernah menguasai tiga per empat dunia. Imperium Mongol yang telah meluluh-lantakkan kerajaan besar Abassiyah yang telah berdiri selama ratusan tahun, menghancurkan kerajaan besar Persia yang berusia ribuan tahun, dan meratakan kerajaan-kerajaan di anak benua India, ternyata gentar oleh kekuatan Majapahit sehingga tidak berani menyerbu ke selatan. Kerajaan Cina Mongol malahan mengirimkan utusan persahabatan yang dipimpin oleh Laksamana Cheng Ho. Jika siklus tujuh abad ini terulang kembali, maka pada abad ke 21 Bumi Nusantara akan kembali mencapai kejayaannya.

Saat ini Indonesia adalah salah satu negara demokratis yang cemerlang karena secara meyakinkan berhasil menjadi negara kelas menengah. Indonesia adalah kekuatan ekonomi ke 10 dunia dengan nilai pasar US$ 867 milyar setara dengan pendapatan per kapita sekitar US$ 3.475 dan pertumbuhan yang meyakinkan di atas 5%. Dengan asumsi terus terjadi kestabilan politik dan keamanan maka McKinsey meramalkan bahwa tahun 2030 nanti Indinesia akan menjadi kekuatan ekonomi ke 6 atau ke 7 dunia. Bahkan dengan ekstrapolasi, bukan tidak mungkin Indonesia pada tahun usia emasnya 2045 akan menjadi 5 besar ekonomi dunia bersama-sama Cina, India, Jepang, dan Amerika Serikat.

Indonesia juga akan mendapatkan sebuah bonus yang hanya terjadi sekali seumur hidup dalam kehidupan sebuah bangsaut, yaitu bonus demografi. Secara sederhana, bonus demorafi ini terjadi ketika piramida struktur penduduk mulai berbalik di mana jumlah penduduk usia produktif mulai melampaui jumlah penduduk usia non produktif. Bonus demografi ini diperkirakan akan terjadi menjelang Indonesia memasuki usia emas 100 tahunnya.

Bonus demografi yang diperkirakan akan terjadi pada tahun 2030 ini didahului dengan terjadinya dua fenomena menarik, yaitu globalisasi dan lompatan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, serta  resultan dari interaksi antara ke duanya. Globalisasi telah membuka berbagai sekat dan batasan yang ada dan memungkinkan terbukanya berbagai peluang sekaligus ancaman. Kemajuan teknologi informasi sebagai sebuah disruptive technology telah membawa dampak dalam kehidupan, bukan hanya dunia bisnis saja, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Resultan dari keduanya adalah terjadinya perubahan tatanan social dan budaya yang mendorong lahirnya generasi baru, yaitu Generation C (Gen-C).

 

Generation C: creative, connected, dan collaborative

Gen-C adalah generasi yang dibesarkan oleh orangtua yang giat bekerja yang berangkat bekerja sebelum matahari terbit dan pulang kerja setelah matahari terbenam, belum ditambah dengan pekerjaan kantor yang dibawa ke rumah. Masa kecil Gen-C ini kalau tidak dititipkan di day care adalah diasuh oleh pembantu sehingga mengurangi kuantitas dan intensitas hubungan emosi antara orangtua dan anak.

Gen-C dari kecil sudah terbiasa mengenal dunia global melalui tayangan televisi dari berbagai stasiun TV kabel dengan tayangan-tayangan global mulai dari American Voice sampai ke sinetron Uttaran, atau tayangan-tayangan TV lokal yang merupakan representasi budaya luar meski dengan pelaku-pelaku dan nama-nama Indonesia. Kalau bukan sinetron, mereka dicekoki dengan berbagai kontes orang-orang dewasa meskipun dengan pelaku anak-anak.

Tersedianya ratusan kanal yang dengan mudah diganti dengan remote control telah memberikan dan mengajarkan kebebasan kepada Gen-C sekaligus menunjukkan kepada mereka kebebasan dan kemudahan hidup hanya dengan menekan tombol sebuah remote control. Gen-C sejak usia sangat dini sudah dikenalkan dengan berbagai perangkat gawai (gadget), mulai dari konsol permainan, telepon seluler, tablet, bahkan komputer. Lebih dari 8 jam sehari mereka bergelut dengan dunia maya yang berbentuk media sosial, televisi, permainan digital, dan gawai mereka. Bagi mereka, dunia maya dan gawai telah menjadi ‘bagian kehidupan’ sehari-hari.

Gen-C selalu membawa telepon seluler (ponsel) ke mana-mana. Bagi mereka, alat komunikasi ini sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan kehidupannya. Serasa ada yang kurang kalau tanpa ponsel, begitulah mereka mengatakannya, karena ponsel bukan hanya sebagai alat komunikasi. Ponsel juga sebagai alat ‘citra diri’ seperti halnya pakaian (fashion). Jangan heran, bila mereka lantas suka gonta-ganti ponsel dengan berbagai alasan. Maunya mereka bilang, “Nih, hp keluaran terbaru. Biar keren.”

Tidak hanya itu, cara mereka berkomunikasi pun berbeda, mereka seolah memiliki bahasa tersendiri. Sehingga kadang sulit dimengerti maksudnya. Bahasa ini menyiratkan sifat dan keinginan Gen-C yang maunya serba cepat. Suatu bahasa yang ringkas, padat, to the point dan tidak perlu bertele-tele. Coba perhatikan, kalau melihat bahasa SMS mereka, lihat saja bagaimana mereka menuliskan, Gm mo k mll, sori blum s4 bls, lg sbk bgt neh, dan masih banyak lagi. Bahkan, mereka memiliki kamus singkatan misalnya mujadul—muka jaman dulu, gatot—gagal total. Karena itulah disebut sebagai Gen C (creative).

Namun disisi positif, generasi kreatif ini lebih menyukai kebebasan, bukan hanya kebebasan berekspresi, tapi juga kebebasan berkreasi. Produk-produk dan bisnis-bisnis legacy tidak menarik bagi mereka. Bekerja dari jam 8 ke jam 17, setiap hari rutin rumah-kendaraan-kantor, kantor-kendaraan-rumah, adalah sesuatu yang membosankan karena mereka terbiasa bebas sesuai dengan keinginan mereka. Karena itu tidak heran ketika tumbuh berbagai usaha start-up yang dimotori oleh Gen-C yang tidak mau terikat pada paradigma bisnis legacy yang mereka anggap kuno.

Gen-C tidak bisa lepas dari komunikasi dan gawai mereka Gen-C akan stres jika dijauh dari gawai mereka, makin jauh jarak mereka dengan gawai makin tinggi tingkat stress mereka. Dengan gawai, mereka dapat berinteraksi dengan komunitas maya mereka. Gen-C dapat menghabiskan waktu bersama-sama teman-teman komunitasnya, baik pada saat sekolah dan pada saat bermain. Mereka berbagai membentuk komunitas melalui media sosial. Komunitas yang bisa mengerti, menerima, dan menghargai mereka. Dan rata-rata mereka sangat loyal pada komunitasnya dan bersedia berkorban untuk komunitas mereka.

Cara bersosialisasi mereka juga berbeda. Gen-C ini lebih suka pergi ke tempat hiburan, seperti ke mal, pesta, bioskop, travelling, dan cari makan enak. Mereka pergi ke mal bukan untuk berbelanja karena mereka lebih senang berbelanja menggunakan gawai mereka, tetapi mereka pergi ke mal untuk bersosialisasi dan bergaul bersama teman-temannya dalam suatu kelompok. Jangan heran, kalau sering dijumpa segerombolan remaja di mal-mal yang berkumpul dengan teman-temannya di dunia nyata. Bagi Gen-C teman-teman di media sosial sudah dianggap seperti teman-teman di dunia nyata.

 

Bonus demografi atau bencana demografi?

Terjadinya bonus demografi akan menyebabkan naiknya jumlah populasi usia produktif sehingga lebih besar daripada populasi usia non produktif. Jadi dapat kita bayangkan, satu dua dekade yang akan datang, penduduk Indonesia akan dipenuhi oleh tenaga kerja usia produktif. Nah apakah yang terjadi nanti benar-benar bonus demografi atau bencana demografi? Mari kita lihat apa yang terjadi sekarang.

Pendidikan merupakan hal sangat penting bagi kehidupan suatu bangsa. Maju mundurnya suatu peradaban bangsa, salah satunya diukur dari kualitas pendidikannya. Pendidikan sendiri merupakan proses memanusiakan manusia. Kemajuan peradaban sebuah bangsa ditentukan oleh kemajuan pendidikannya.

Berdasarkan data Kemendikbud 2010, di Indonesia terdapat lebih dari 1,8 juta anak tiap tahun yang tidak dapat melanjutkan pendidikan, disebabkan oleh tiga faktor, yaitu ekonomi, kerja usia dini untuk mendukung keluarga, dan pernikahan di usia dini. Namun dari mereka yang melanjutkan pendidikanpun tidak mendapatkan pendidikan yang memadai untuk meningkatkan daya saing mereka di dunia global.

Menurut laporan Education For All Global Monitoring Report yang dikeluarkan oleh UNESCO setiap tahunnya, pendidikan Indonesia berada di peringkat ke-64 untuk pendidikan di seluruh dunia dari 120 negara. Data Education Development Index (EDI) Indonesia, pada 2011 Indonesia berada di peringkat ke-69 dari 127 negara. Sedangkan di negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Ekonomi Pembangunan (OECD), ternyata Singapura menduduki peringkat pertama dari 76 anggota OECD, disusul oleh Hong Kong dan Korea Selatan. Kejutan terbesar adalah Vietnam yang kini berada di urutan 12 dunia.

Yang menyedihkan adalah, ketika semakin banyak negara Asia menjulang di daftar buatan OECD ini, peringkat Indonesia justru terjun bebas berada di urutan 69, hanya unggul tujuh peringkat dari Ghana yang ada di daftar terbawah. Nah, dengan kondisi pendidikan yang sangat buruk ini, bisa dibayangkan keadaan tenaga usia produktif sepuluh dua puluh tahun yang akan datang. Bonus demografi yang kita harapkan akan berubah menjadi bencana demografi jika kita tidak segera melakukan langkah-langkah darurat untuk memperbaiki pendidikan kita.

 

Reorientasi Strategi Pendidikan untuk Menghadapi Gen-C

Jacques Attali, seorang filsuf Perancis dalam bukunya “Millennium: Winners and Losers in the Coming World Order” menyatakan bahwa tata dunia masa depan akan terjadi perubahan dalam kompetisi antar bangsa. Kalau pada masa lalu persaingan dilakukan dengan kekuatan agama, kemudian diikuti dengan kekuatan militer, dan saat ini dengan kekuatan ekonomi, maka pada masa depan persaingan akan dilakukan dengan kekuatan kualitas modal manusia. Bangsa-bangsa akan terbagi dalam dua kelompok besar, yaitu bangsa-bangsa pecundang dan bangsa-bangsa pemenang. Bangsa-bangsa pemenang adalah bangsa-bangsa yang memiliki kapasitas modal manusia yang berkualitas dan berdaya saing.

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan telah melakukan berbagai upaya dalam meningkatkan kualitas pendidikan, namun upaya-upaya tersebut terlalu fokus kepada aspek pembelajarannya. Tidak aneh kalau wujud dari strategi ini adalah berupa perubahan kurikulum, perubahan metode pembelajaran, perubahan buku ajar, dan lain-lain yang tidak menyentuh aspek pendidikannya. Pembelajaran hanya melakukan transfer terhadap pengetahuan, ketrampilan, dan sikap, tapi tidak dapat mentransfer nilai-nilai, kepercayaan, dan perilaku.

Pendidikan, atau education, berasal dari kata educatio, yang berarti “A breeding, a bringing up, a rearing”. Artinya pendidikan harus mengangkat dari sekedar human menjadi human being. Sedangkan pembelajaran saja hanya akan justru menurunkan derajat manusia dari human menjadi robot atau machine saja. Untuk itulah maka strategi pendidikan di Indonesia harus direorientasi secara menyeluruh, bukan hanya pada aspek pembelajarannya saja, tetapi secara komprehensif sebagai berikut:

1. Pendidikan tinggi dipisahkan kembali dari riset dan teknologi dan menyatukan kembali pendidikan mulai dari tingkat dasar ke sampai tingkat tinggi. Alasannya adalah karena pendidikan adalah sebuah alur proses yang utuh sehingga tidak dapat dipotong menjadi dua di mana satu adalah pendidikan dasar menengah dan satu lagi pendidikan tinggi. Dengan menyatukan alur proses maka konsep pendidikan menjadi holistik dari awal sampai akhir.

2. Proses pendidikan terdiri dari proses pembentukan karakter, pengembangan ketrampilan, dan penguasaan ilmu pengetahuan. Dalam proses ini komponen terpenting bukanlah sarana-prasarana, tetapi komponen terpenting adalah guru. Karena itu pengembangan guru yang sesuai dengan karakteristik murid-murid jaman sekarang mutlak dilakukan. Guru jaman dulu hanya cocok untuk murid jaman dulu, murid jaman sekarang harus dididik oleh guru jaman sekarang.

3. Pendidikan dasar dititikberatkan kepada pembentukan karakter sebagai komponen utama dan pengembangan ketrampilan serta penguasaan ilmu pengetahuan sebagai komponen tambahan.

4. Titik berat pendidikan menengah adalah pada pengembangan ketrampilan sedangkan pembentukan karakter serta penguasaan ilmu pengetahuan menjadi komponen tambahan.

5. Pada pendidikan tinggi, titik berat adalah pada penguasaan ilmu pengetahuan, dan pembentukan karakter serta pengembangan ketrampilan menjadi komponen tambahan.

6. Penggunaan teknologi pembelajaran, seperti misalnya teknologi informasi dan komunikasi, yang selaras dengan karakter murid-murid Gen-C mutlak dikuasai oleh guru-guru. Fasilitas untuk mendukung penggunaan teknologi dalam peningkatan kualitas pendidikan harus disediakan.

7. Model pembelajaran hanya di dalam kelas harus diubah sehingga murid-murid Gen-C dapat memperoleh pendidikan di mana saja, dan dapat belajar di mana saja, tidak harus di dalam kelas. Kelas tidak hanya berbentuk ruangan dengan bangku berderet-deret seperti yang kita lihat sekarang. Diterapkan juga kelas dinamis, di mana murid-murid selalu berpindah kelas untuk pelajaran yang berbeda sangat sesuai dengan karakter Gen-C. Dengan demikian konfigurasi kelas dapat disesuaikan dengan mata pelajaran yang akan menggunakan kelas tersebut.

8. Penerapan berbagai metode, strategi, dan teknik pembelajaran modern. Pembelajaran aktif, pembelajaran kuantum, pembelajaran PAKEM, dan berbagai pembelajaran lainnya yang dirancang untuk Gen-C diterapkan sesuai dengan tingkatan murid maupun jenis mata pelajarannya serta memperhatikan tipe-tipe belajar murid (auditori, visual, atau kinestetik). Pembelajaran ini harus dapat membangun selain kompetensi personal, juga kompetensi sosial maupun kompetensi spiritual.

9. Sistem evaluasi yang komprehensif dan tidak hanya pilihan ganda. Pilihan ganda telah membunuh daya kreatif murid-murid Gen-C karena hanya memberikan kebenaran tunggal. Dengan berbagai alternatif evaluasi lainnya, maka dimungkinkan pengembangan kreatifitas dan inovasi murid, serta mengajarkan kebenaran majemuk.

10. Mengembangkan dan menghargai kecerdasan majemuk. Murid tidak haya dinilai dari satu aspek kecerdasan saja, apalagi satu matau beberapa mata pelajaran saja, tetapi dinilai dari seluruh aspek kecerdasan manusia.

 

Pentingnya Kualitas Guru

Guru adalah faktor sentral dari keberhasilan pendidikan. Jika gurunya berkualitas, maka dunia pendidikan juga berkualitas karena mengalami akselerasi kemajuan di segala aspek. Namun, jika kualitas gurunya rendah, maka dunia pendidikan pun terancam mengalami kemunduran. Muridnya menjadi tidak berkualitas dan dikhawatirkan tidak melahirkan generasi yang kompetitif, dinamis, dan produktif.

Selama ini perbaikan dunia pendidikan kita hanya fokus pada perubahan kurikulum atau perubahan pembelajaran saja. Padahal dalam upaya menggerakkan perubahan ke arah yang lebih baik di dunia pendidikan dengan prioritas peningkatan kualitas guru jauh lebih penting karena keberhasilan sistem pendidikan apapun ditentukan oleh kualitas pribadi guru. Oleh karena itu, diperlukan guru yang memiliki kualitas pribadi akan menjadi guru yang berkarisma sehingga dapat menjadi teladan sekaligus motivator bagi muridnya. Dan apabila guru telah berubah menjadi guru yang menginspirasi muridnya transformasi nilai dan ilmu akan berjalan dengan lancar dan sangat bisa memberikan pengaruh positif bagi perkembangan murid.

Guru memiliki peran strategis dalam pendidikan untuk menghasilkan generasi muda yang  berdaya guna, berdaya gugah, dan berdaya ubah.

Pertama, guru merupakan petugas sosial yaitu orang yang harus membantu kepentingan masyarakat. Dalam kegiatan masyarakat, guru merupakan petugas yang dapat dipercaya untuk berpartisipasi di dalamnya.

Kedua, guru merupakan pelajar dan ilmuwan, yaitu senantiasa dan secara terus-menerus memiliki semangat meningkatkan ilmu pengetahuan. Dengan berbagai cara, setiap saat guru senantiasa belajar untuk mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan.

Ketiga, guru merupakan orangtua, yaitu mewakili orangtua murid di sekolah dalam pendidikan anaknya. Sekolah adalah perluasan rumah sehingga dalam arti luas sekolah merupakan sebuah keluarga, dan guru berperan sebagai orangtua muridnya.

Keempat, guru adalah pencari teladan, yaitu yang senantiasa mencarikan teladan yang baik untuk murid. Guru menjadi ukuran bagi norma-norma tingkah laku bagi muridnya. Pencari teladan maksudnya juga bahwa guru memiliki tanggung jawab untuk senantiasa memberikan teladan yang baik kepada muridnya, dan ini bisa dilakukan dengan menjadikan orang lain sebagai teladan. Misalnya, guru menjelaskan bahwa ada seseorang yang memiliki karakter dan kepribadian luar biasa, yang oleh karenanya kita semua harus meneladani dan belajar banyak darinya.

Kelima, pencari keamanan, yaitu guru senantiasa mencarikan rasa aman bagi murid. Guru menjadi tempat berlindung bagi murid-murid untuk memperoleh rasa aman dan puas di dalamnya. Di antara hasil dari pemberian dan pencarian keamanan ini adalah kegiatan belajar mengajar menjadi lancar serta murid-muridnya menjadi senang bersekolah dan senang di sekolah.

 

Guru jaman dulu hanya cocok untuk murid jaman dulu, murid jaman sekarang harus dididik oleh guru jaman sekarang

Ada tujuh kualitas pribadi guru yang harus dimiliki untuk menjadi guru yang cocok untuk murid-murid jaman sekarang.

Pertama, memiliki Kecerdasan Paripurna ((PQ, IQ, EQ, SQ)

a. Guru harus memiliki Physical Quotient (PQ), yaitu kemam¬puan seseorang dalam menjaga kebugaran atau kesehatan dirinya sendiri. Dengan tubuh yang bugar maka guru bisa melakukan aktivitas dengan lancar. Kebugaran jasmani juga akan memberikan kesegaran mental, tetapi juga menghasilkan kestabilan emosi. Orang yang jasmaninya bugar memiliki pandangan hidup yang lebih baik, lebih percaya kepada diri sendiri dan serasi dalam mengembangkan bakat dan minat yang dimilikinya.

b. Guru harus memiliki Intellegence Quotient (IQ), yaitu kecerdasan yang berkaitan dengan logika berfikir maupun kreatifitas. Inti dari kecerdasan ini ialah aktivitas otak dalam kemampuan untuk menalar, perencanaan sesuatu, kemampuan memecahkan masalah, belajar, memahami gagasan, berpikir, serta penggunaan daya cipta secara maksimal.

c. Guru harus memiliki Emotional Quotient (EQ). Daniel Goleman (1999) yang mempopulerkan jenis kecerdasan manusia yang dianggap sebagai faktor penting yang dapat mempengaruhi terhadap prestasi seseorang, yakni kecerdasan emosional yang merujuk pada kemampuan mengenali perasaan kita sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri, serta kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang lain.

d. Spritual Quotient (SQ) adalah kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibanding dengan yang lain. Guru yang ber-SQ tinggi mampu memaknai kehidupan dengan memberi makna positif pada setiap peristiwa, masalah, bahkan penderitaan yang dialaminya. Dengan memberi makna yang positif itu, dia mampu membangkitkan jiwanya dan melakukan perbuatan dan tindakan yang positif.

Ke dua, toleransi terhadap ketidaksempurnaan. Guru harus menahami bahwa murid-muridnya adalah sosok-sosok yang masih berkembang tumbuh. Setiap orang, termasuk dirinya sendiri, selalu mengalami fase-fase untuk tumbuh dan menjadi lebih baik. Karena itu setiap guru harus dapat mentolerir ketidaksempurnaan ini, baik pada murid-muridnya maupun pada dirinya sendiri.

Ke tiga, memahami perbedaan individu. Gen-C dengan segala latar belakangnya bukanlah generasi yang homogen, melainkan setiap individu Gen-C adalah unik, masing-masing memiliki kemampuan ataupun tingkatan serta karakter masing-masing.

Ke empat, memiliki keterampilan komunikasi pembelajaran. Seorang pakar komunikasi, Albert Mahrebian meneliti faktor yang sangat diperhatikan audiens (murid) dari seorang pembicara (guru). Ada tiga faktor yang sangat mempengaruhi persepsi dan daya tangkap murid, yaitu visual (55%), voice (38%), dan verbal (7%). Memahami teknik-teknik komunikasi yang efektif merupakan sebuah keahrusan yang harus dimiliki oleh seorang guru.

Ke lima, sense of humor, yaitu kecenderungan respons kognitif individu untuk membangkitkan tertawa, senyuman, dan rasa kegembiraan. Ahli medis dan psikologi sepakat bahwa rasa humor merupakan aset berharga dan amat penting untuk kesehatan dan kebahagiaan hidup, yang bisa dimiliki oleh setiap individu normal. Bagi guru, memiliki rasa humor merupakan modal personal yang sangat berharga sekaligus dapat menjadi daya pikat tersendiri di mata muridnya. Rasa humor guru sangat berguna dalam upaya menciptakan iklim kelas dan pengembangan proses pembelajaran yang lebih sehat dan menyenangkan. Bahkan, rasa humor merupakan salah satu ‘kunci’ untuk menjadi guru yang sukses. Kenapa? Karena rasa humor guru dapat meredakan ketegangan suasana dan bisa dijadikan sebagai cara untuk menarik perhatian murid di kelas. Dengan rasa humor yang dimiliki guru akan menunjukkan bahwa dia adalah sosok yang memiliki kepribadian dan mental yang sehat, dan apat menikmati hidup, serta mampu menjalani kehidupan kariernya secara wajar tanpa stres.

Ke enam, mampu melepaskan ego pribadi. Sukses adalah visi pribadi, tetapi seberapa besar ketekunan, kegigihan, dan kedekatannya dengan Tuhan yang merupakan sumber kesuksesan itulah yang menentukan tingkat kesuksesan seseorang. Dibutuhkan daya juang yang keras dalam merealisasikan visi, serta hubungan yang intim dengan Tuhan agar jalan-jalan dibukakan oleh Tuhan dan dia semakin kuat dalam menjalani setiap proses yang terjadi. Oleh karena itu, miliki mental seperti seorang ‘penggali sumur’ yang tetap menggali sekalipun mata air jauh di dalam tanah dan belum terlihat, serta tidak menghiraukan berapa dalam mereka harus gali dan berapa banyak material yang menghambat pekerjaan mereka.

Ke tujuh, selalu menebar energi positif. Setiap orang pada dasarnya bisa berubah. Jangankan manusia, bendapun bisa. Peneliti Jepang, Masaru Emoto, telah membuktikan bahwa energi positif tidak hanya mempengaruhi manusia, tetapi juga benda-benda di lingkungan sekitar kita, misalnya air. Setiap energi yang dilepaskan oleh tubuh kita apakah itu energi positif maupun energi negatif, sesungguhnya tidak pernah hilang dari muka bumi ini. Artinya, setiap energi yang dipancarkan dari tubuh kita, nilainya tidak akan pernah berubah. Kalau yang kita pancarkan dari tubuh kita adalah energi positif, maka yang akan kembali adalah energi positif yang akan kita terima lagi. Demikian sebaliknya, kalau energi negatif yang kita pancarkan maka yang akan kembali ke kita adalah energi negatif.

 

Penutup

Sebagai kesimpulan, bahwa Indonesia memiliki potensi untuk menjadi negara besar. Untuk menjadi negara besar, disamping penguatan ekonomi, yang lebih penting adalah penguatam modal manusia. Penguatan modal manusia saat ini sangat relevan karena Indonesia akan segera mendapatkan bonus demografi. Gen-C yang akan menjadi generasi usia emas Indonesia memerlukan pendekatan pendidikan yang berbeda, termasuk memerlukan guru-guru dengan kualitas yang berbeda dengan generasi dulu. Oleh karena itu perlu dilakukan reorientasi strategi pendidikan. Jika tidak dilakukan reorientasi pendidikan, maka bonus demografi akan berubah menjadi bencana demografi.

 

Situng KPU dan Robot Ikhlas (II)

Hasil gambar untuk pemilu 2019

Prof. Dr. ir. Marsudi Wahyu Kisworo, IPU

(Alumni Jurusan Teknik Elektro, subjurusan Komputer dan Kontrol ITB angkatan 1978 dan Doktor Ilmu Komputer Curtin University Australia, Guru Besar Ilmu Komputer, certified International Association of Software Architect, certified Security Risk Auditor, certified Data Analyst, Insinyur Profesional Utama, anggota tim dan arsitek Grand Design Sistem Informasi Pemilu 2004).

 

Posting saya sebelumnya, tentang Situng KPU dan Robot Ikhkas, menghasilkan banyak pujian setinggi langit, cacian serendah kerak bumi, dan berbagai bully an yang penuh penghinaan. Tapi nggak apa-apa koq, saya terima semua itu dengan senang dan ikhlas. Kata orang bijak kan hidup ini akan indah kalau ada manis, pahit, asin, pedas, dan berjuta rasanya seperti kata Eyang Titik Puspa kalau lagi jatuh cinta. Karena saya mengucapkan terima kasih kepada yang telah memuji, mencaci, membully (apa merundung ya bahasa Indonesianya). Di bulan Ramadhan ini saya mendoakan kepada semua semoga Alah memberikan pahala kepada semua sesuai dengan amalannya.

Tapi yang menarik adalah diantara pujian, cacian, dan rundungan tersebut, ada beberapa sahabat yang sangat peduli masa depan bangsa agar ke depan bangsa kita menjadi bangsa besar. Mereka mengajak berdiskusi secara akademik bagaimana solusi terhadap urusan Situng ini. Saya mengumpamakan bahwa Situng ini ibarat bayi sudah terlanjur lahir, namum kurang sempurna karena ada beberapa cacat. Apakah bayi ini mau kita bunuh saja, atau kita coba menyempurnakannya. Ibarat pepatah “nasi sudah menjadi bubur”, tidak usah kita sesali. Tambahkan suiran ayam, irisan daun bawang, bawang goreng, potongan telor rebus, plus kaldu ayam, hmh,,,…nikmat ya membayangkannya apalagi lagi puasa begini. Nah dari diskusi inilah maka saya membuat postimg ini. Dan biar seperti bacaan karya penulis masa kecil saya, Kho Ping Ho, dikasih judul jilid II ya, yang isinya apa yang dapat dilakukan KPU untuk menbuat  nasi yang jadi bubur ini jadi bubur ayam. Disclaimer: jangan ada yang nanya mengapa tidak langsung disampaikan ke KPU ya, karena saya tidak punya kontak dan tidak terlibat dalam implementasi sistem-sistem Pemilu dari 2004 sampai sekarang. Hanya dengann 10 an pakar mikut merancang arsitektur nya yang dikenal sebagai Grand Design Sistem Informasi (GDSI) KPU. Silahkan yang tertarik masih ada dan masih bisa diunduh koq. Di Google saja nanti ketemu koq.

Seperti kita ketahui bersama bahwa Situng menampilkan beberapa data yang salah. Ada yang bilang puluhan ribu, tapi saya menemukan hanya orde ribuan saja. Kesalahan itu bervariasi, yaitu:

1. ada yang salah jumlah perolehan suaranya, ini tidak banyak dan menguntungkan atau merugikan ke dua-dua pasangan ya, bukan salah satu saja

2. ada yang salah di data yang tidak mempengaruhi perolehan suara masing-masing pasangan calon, misalnya salah jumlah total, salah jumlah pemilih, dan sebagainya. Ini lumayan banyak

3. ada yang masalah di citra C1 nya, mulai dari tidak lengkap, tidak ada, salah tidak sesuai dengan data TPSnya, dan citra buram tidak terbaca. Ini juga banyak

(Disclaimer : Saya tidak mau berdebat angkanya berapa ribu atau berapa puluh ribu karena angkanya dinamis berobah setiap saat, dan tergantung kepada mazhab mana yang diikuti)

Nah, sebetulnya KPU di situs Situng sudah membuat disclaimer yang silahkan dibaca sendiri ya, sehingga semestinya adanya kesalahan-kesalahan tersebut tidak usah diributkan. Namun kita harus maklum, sebagian bangsa kita ini tidak paham apa itu “disclaimer“. Jangankan disclaimer, wong kalau ada promosi maka “syarat dan ketentuan berlaku” saja tidak pernah dibaca.

Dengan dasar-dasar tersebut semua di atas, maka saya mengusulkan sebuah solusi agar bubur kita jadi bubur ayam. Solusi ini mungkin sangat sederhana, dan memang dibuat sederhana mengingat waktu yang tersedia tinggal beberapa hari saja, dan dengan asumsi bahwa arsitektur Situng masih sama dengan yang dirancang di Grand Design dulu artinya bahwa Situng yang kita lihat adalah virtualisasi (versi Web) dari Situng yang sesungguhnya di backoffice nya KPU. Kita mulai dari diagram dulu ya.

situng

Pertama dilakukan penambahan sebuah field  biner “Verified?” yang isinya bisa Ya/Tidak, Sudah/Belum, Kosng/Flag, atau apapun terserah, sebagai penanda apakah data TPS tersebut sudah terverifikasi atau belum. Untuk data yang sudah masuk, cara verifikasinya bisa dengan manual oleh petugas, atau membandingkan dengan temuan-temuan masing-masing tim pasangan calon, atau dari komunitas IT yang ada beberapa telah ikut melakukan verifikasi, termasuk robot-robot ikhlas maupun tidak ikhlas sebagai masukan yang tentu saja harus diperiksa validitasnya. Sulit atau tidak? Yang verifikasi manual mungkin perlu orang, tapi verifikasi yang non manual mudah dilakukan dengan program kecil asal masing-masing pemilik data “kesalahan” tersebut mau berbagi dengan KPU. Tapi saya yakin koq, niat baik ini pasti didukung semua pihak. Sedangkan untuk data baru, semua field ini di isi Tidak, atau Belum, atau apapun sebagai nilai default, yang kemudian bisa dirobah ketika sudah dilakukan verifikasi.

Nah data dari database Situng ini, yang secara periodik diunggah ke database Web Situng untuk ditampilkan oleh program penampil. Untuk data yang sudah terverifikasi, ditampilkan pada laman Web yang terverifikasi, dan yang belum ditampikan ke laman Web belu terverifikasi. Opsional boleh juga dibuat laman satu lagi, atau bisa pakai laman yang ada sekaran, untuk total yang sudah terverifikasi dan belum terverifikasi yang penting ditampilkan juga keterangan untuk masing-masing.

Solusi ini memang sederhana, dan saya siap untuk dibully masak profesor solusinya haya seperti itu. Tapi sekali lagi solusi ini dibuat karena untuk merobah bubur jadi bubur ayam sumberdaya nya, terutama waktu, hanya tinggal sedikit.

Berapa lama perlu waktu untuk mengerjakan ini? Kalau hanya data Pilpres saya yakin adik-adik lulusan ITB yang sekarang jadi kontraktornya Situng bisa mengerjakan dalam waktu setengah, maksimum satu hari. Tapi kalau mau semua termasuk Pilleg akan makan waktu lebih lama. Untuk itu karena sumber kehebohan adalah Pilpres ada baiknya fokus di Situng nya Pilpres.

Semoga solusi ini memadai untuk meredakan kehebohan Situng dan semoga menjadi bahan untuk Situng 2024 kalau sistem Pemilu nya masih sama dan arsitektur sistem IT nya juga masih sama, yaitu Situng tidak digunakn sebagai alat penghitungan suara yang sah, tetapi hanya menjadi sarana transparansi dan kontrol masyarakat terhadap penghitungan suara manual berjenjang. Kalau masih sama, maka di Situng 2024 sebaiknya diberikan API (application programming interface) untuk memudahkan tim-tim sukses dan masyarakat yang tertarik untuk dapat mengunduh dan membuat salinan dari database yang ada di Web Situng.

 

 

 

 

Situng KPU dan Robot Ikhlas

Image result for pemilu 2019

Prof. Dr. ir. Marsudi Wahyu Kisworo, IPU

(Alumni Jurusan Teknik Elektro, subjurusan Komputer dan Kontrol ITB angkatan 1978 dan Doktor Ilmu Komputer Curtin University Australia, Guru Besar Ilmu Komputer, certified International Association of Software Architect, certified Security Risk Auditor, certified Data Analyst, Insinyur Profesional Utama, anggota tim dan arsitek Grand Design Sistem Informasi Pemilu 2004).

Hari-hari ini kita disibukkan oleh berbagai isu yang berkaitan dengan Pemilu 2019, khususnya terkait dengan Situng KPU. Hebohnya kasus Situng ini kemudian memunculkan banyak pakar, baik yang benar-benar pakar informatika khususnya pakar software atau sistem informasi, maupun pakar abal-abal yang entah belajar informatika dimana. Pakar-pakar ini menghipnotis masyarakat awam dengan gelarnya, sehingga banyak masyarakat yang tidak paham menjadi terpedaya dengan pernyataan-pernyataannya. Karena itu sebagai akademisi yang memang mendalami bidang keilmuan ini, serta berpraktek dalam merancang arsitektur berbagai sistem besar, termasuk menjadi arsitek di Tim Grand Design Sistem IT Pemilu yang dibuat pada tahun 2003, saya menambahkan sedikit informasi yang mudah-mudahan dapat membuat masalah menjadi lebih jelas, terutama bagi masyarakat awam agar terbebas dari hipnotis pakar IT abal-abal.

Sesuai dengan sistem perundang-undangan Pemilu kita, satu-satunya hasil penghitungan suara yang sah secara hukum adalah hasil penghitungan suara berjenjang yang dilakukan secara manual, mulai dari tingkat TPS sampai pleno KPU Pusat, sedangkan Situng hanya untuk mengonfirmasi hasil perhitungan suara manual berjenjang tersebut.

Mekanisme ini masih sama dengan yang ada pada Grand Design Sistem IT Pemilu, dimana saya dan teman-teman didalam tim yang terdiri dari para ilmuwan dan praktisi informatika dari ITB, UI dan UGM, serta pihak lainnya menjadi bagian yang mendisain Sistem IT KPU, dan disahkan dalam sebuah Surat Keputusan KPU pada tahun 2003 yang lalu.

Artinya, apabila dalam melakukan input data scan form C1 pada Situng terdapat salah entri, salah algoritma, perangkatnya rusak, diretas, diacak-acak, disedot datanya, dimanipulasi atau apapun namanya, hasil Situng tidak akan memiliki pengaruh apa-apa terhadap hasil akhir penghitungan suara. Tidak ada gunanya jika ingin memanipulasi hasil Pemilu melalui Situng, kalau memang mau memanipulasi ya lakukan di penghitungan suara manual berjenjang, bukan melalui Situng.

Tentang tidak digunakannya Situng sebagai alat penghitungan suara tersebut sudah kami diskusikan berkali-kali secara panjang lebar dan mendalam pada waktu kami membuat grand design sistem IT Pemilu pada tahun 2003, terdapat perdebatan dan diskusi panjang di internal maupun eksternal yang melibatkan masyarakat, termasuk komunitas, para pakar dan ilmuwan serta organisasi-organisasi lainnya.

Tentu saja tim kami waktu itu menginginkan agar bangsa kita mempunyai sistem Pemilu yang modern, termasuk pencoblosan sampai penghitungan suara dilakukan dengan menggunakan IT. Tetapi kami juga menyadari bahwa teknologi yang ada saat itu, dan mungkin juga sampai sekarang, tidak cukup kuat untuk melindungi sistem penghitungan suara secara elektronik secara paripurna dari berbagai ancaman, sehingga disimpulkan bahwa penghitungan suara manual berjenjang lebih sesuai digunakan daripada penghitungan suara secara elektronis.

Akibat dari keputusan tidak digunakannya Situng sebagai alat penghitungan suara yang sah, maka waktu itu sempat ada pakar yang mengejek bahwa yang dibuat oleh KPU hanyalah kalkulator raksasa saja, bukan sistem yang canggih, karena toh hasilnya tidak dipakai sebagai hasil akhir penghitungan suara.

Kami menyadari ini karena bagi yang benar-benar ahli dalam bidang IT Security, pasti tahu persis bahwa didunia ini tidak ada sistem yang tidak bisa diretas, sehingga pertimbangannya adalah, bahwa sistem penghitungan suara manual berjenjang jauh lebih sulit untuk diretas, dibandingkan sistem penghitungan suara secara elektronik, apalagi dengan adanya partisipasi publik, baik itu saksi peserta, relawan, dan masyarakat umum yang akan ikut mengawasi proses penghitungannya.

Mungkin nanti dimasa depan dengan berbagai kemajuan IT yang setiap saat berkembang, seperti misalnya menggunakan blockchain dan lain-lainnya, dapat mulai dipikirkan penghitungan suara secara elektronis.

Lantas apakah Situng itu menjadi mubazir? Tentu saja tidak. Situng, dalam grand design tersebut, dirancang sebagai salah satu mekanisme transparansi penghitungan suara dan sebagai alat kontrol dari masyarakat jika terjadi manipulasi suara dan kecurangan. Dengan demikian Situng bukanlah hal yang sepele, tetapi alat penting untuk mengonfirmasi perhitungan suara manual berjenjang, untuk itu Situng jangan disalahgunakan agar seolah-olah dapat menentukan hasil akhir penghitungan suara.  Dengan ditampillkannya hasil scan form C1 di Situng, maka masyarakat dapat berpartisipasi untuk memonitor hasil penghitungan suara di tingkat TPS. Jika terjadi manipulasi di tingkat ini, maka formulir C1 yang sudah dipindai dan diunggah di Situng bisa digunakan sebagai referensi. Jadi kalau ditemukan penyimpangan seperti ini, maka segera dilakukan koreksi terhadap perhitungan di tingkat TPS tersebut. Nah ketika kemudian perhitungan suara naik ke jenjang berikutnya yaitu di Kecamatan, maka hal yang sama dilakukan koreksi di jenjang tersebut. Jadi mestinya kalau perhitungan suara sudah sampai ke sebuah jenjang, maka perhitungan suara di jenjang bawahnya sudah valid dan sah karena disaksikan oleh para saksi peserta Pemilu dan juga oleh masyarakat.

Sebetulnya dulu pernah terlintas ide bahwa Situng tidak usah mentranskipsi hasil pemindaian formulir C1 ke dalam angka-angka, cukup ditampilkan hasil scan formulir C1 nya saja. Namun dengan pertimbangan bahwa waktu itu baru sebagian kecil masyarakat yang melek IT, maka dilakukan transkripsi alias data entri C1 kedalam Situng, karena kalau hanya hasil scan formulir C1 saja masyarakat akan protes, karena harus menghitung sendiri angka-angkanya.

Sekarang soal aplikasi Situng itu sendiri. Dalam grand design, Situng yang tampil adalah hasil virtualisasi dari salah satu server di KPU. Karena merupakan virtualisasi maka Situng dibuat terbuka, siapapun bisa dan diberikan kemudahan untuk mengakses. Namun hal ini punya dampak sampingan yang buruk, yaitu Situng dengan mudah dapat diretas, bahkan oleh anak-anak SMA. Namun hal ini tidak terlalu menjadi masalah, karena sebagai virtualisasi dari server, pihak KPU dapat dengan mudah mengembalikan ke status sebelum diretas, karena server yang sesungguhnya tidak tersambung ke Internet.

Jadi kalau mau meretas ya harus dari dalam KPU sendiri. Tapi sekali lagi, karena yang digunakan adalah sistem penghitungan suara manual berjenjang, seandainya semua server di KPU rusak bahkan sampai hancur pun tidak akan mempengaruhi hasil akhir penghitungan suara manual berjenjang.

Karena Situng KPU merupakan sistem terbuka, maka siapa saja dapat mengambil data yang ada di Situng. Beberapa hari yang lalu ada seorang profesor yang mengaku pakar IT, dimana latarbelakangnya saya tahu persis, membuat program saja tidak bisa, dengan bangga mengirimkan file Excel hasil download database Situng kepada saya, saya jawab “kalau hanya download data seperti itu, mahasiswa informatika semester awal pun bisa melakukannya”. Karena salah satu pelajaran dalam data analytics adalah bagaimana mengunduh data server kedalam file Excel.

Lalu bagaimana dengan “pakar” IT lulusan Teknik Elektro ITB bernama Hairul Anas Suaidi yang baru baru ini presentasi di Hotel Sahid, dengan Robot Ikhlas hasil karyanya yang katanya dapat memantau Situng KPU?, Terus terang saja, hasil karya Hairul Anas Suaidi itu biasa saja dan cenderung menyesatkan publik.  Seperti saya jelaskan sebelumnya bahwa Situng KPU adalah sistem terbuka. Jadi mau diunduh per-hari, per-jam, per-menit, per-detik, atau real time, ya mudah saja karena oleh KPU memang dibuat sedemikian transparan seperti itu. Bahkan mahasiswa yang semesternya agak tinggi sedikit bisa membuat salinan (mirroring) dari database Situng dengan mudah, sehingga dapat saya katakan disini bahwa Robot yang katanya dapat memantau Situng KPU bukanlah sebuah karya yang fenomenal bagi masyarakat IT. Tidak perlu menjadi seorang pakar untuk membuat aplikasi seperti itu.

Mungkin ada yang menyanggah bahwa Robot Ikhlas bukan hanya melakukan mirroring saja, tetapi dapat menemukan ribuan kecurangan dari Situng. Sekali lagi, mau ribuan, jutaan, milyaran, triliunan kesalahan atau apapun namanya di Situng, atau seandainya Situng dihancurkan sekalipun, tidak ada pengaruhnya terhadap penghitungan suara manual berjenjang.

Kalau begitu apakah sebaiknya Situng dihentikan saja? Menghentikan Situng berarti menutup akses partisipasi dan kontrol publik terhadap penghitungan suara manual berjenjang. Karena itu menurut saya biarkan saja Situng berjalan seperti sekarang, tidak usah diributkan apalagi oleh pakar IT abal-abal, karena jika pakar yang benar-benar pakar, dengan penelitian dan karya-karya yang mendunia, pasti tahu bahwa Situng KPU tidak digunakan sebagai alat penghitungan suara yang sah, tetapi hanya alat kontrol saja, yang sah adalah sistem penghitungan suara manual berjenjang. Jadi kalau mau memantau apakah dalam penghitungan suara terdapat kecurangan atau tidak, awasilah penghitungan suara manual berjenjang, bukan mengawasi Situng.

Self Healing dan Energi Psikologi

Kelas Inspirasi 7: Self Healing dengan Prof. Marsudi

diambil dari http://rumah-harapan.com/kelas-inspirasi-7-self-healing-dengan-prof-marsudi

Kelas Inspirasi (KI) datang lagi! Tanggal 1 Agustus 2015 lalu, ada Prof.Dr.Ir Marsudi Wahyu Kisworo yang menjadi pembicara. Temanya tentang Self Healing dan Hipnoterapi. Soal Prof. Marsudi, latar belakang beliau sangat menarik, yaitu dari ahli komputer kemudian terjun ke dunia hipnoterapi. Lulus dari ITB jurusan Spesialisasi Teknik dan Ilmu Komputer, melanjutkan S2 ke Australia melalui beasiswa, lalu lulus S3 ilmu teknologi informasi.

Beliau pernah menjadi Direktur Penelitian di STMIK Bina Nusantara, pernah pula mengajar pascasarjana Universitas Indonesia. Kini, Prof. Marsudi menjadi Rektor Perbanas yang notabene adalah sekolah untuk para bankir. Terakhir, beliau malah mendalami ilmu tenaga dalam, hipnosis, dan hipnoterapi. Hipnoterapi adalah cabang ilmu psikologi yang mempelajari teknik terapi pikiran dengan cara menghipnosis. Tujuannya untuk mengatasi berbagai masalah, misalnya untuk berhenti merokok, dan lainnya. “Saya ini orang komputer yang terjun ke dunia hipnotis. Agak aneh memang,” kata Prof. Marsudi sambil tertawa.

Memulai kelasnya, Prof. Marsudi mengajak kami semua para relawan peserta Kelas Inspirasi Astra-RHVCF untuk mengetes kesehatan kami dengan cara yang mudah. Yaitu mengangkat satu kaki sambil memejamkan mata, lalu berhitung hingga 20. Orang yang tubuhnya kurang sehat pasti tubuhnya akan goyah atau goyang ke kanan dan ke kiri, tapi kalau badannya sehat pasti satu kakinya sanggup menopang tubuhnya tanpa bergoyang.

Prof. Marsudi saat membuka Kelas Inspirasi Astra-RHVCF

Tes kesehatan, angkat kaki hingga setinggi dengkul, merem, hitung sampai 20

Menurut Prof. Marsudi, setiap orang memiliki tenaga dalam. Contohnya, cobalah rentangkan telapak tangan ke kiri dan ke kanan berulang-ulang. Dari situ akan terasa ada semacam magnet, itulah tenaga dalam yang ada pada diri kita. Tangan memang lebih sensitif dibanding mata untuk menangkap energi yang ada.

CLSrftdUMAAU3Ax

Sebagai ahli pengobatan tenaga dalam, Prof. Marsudi juga memberitahukan tentang alat dan energi yang bisa digunakan untuk pengobatan, yaitu simpul energi (EFT), alat (batu, kristal, dll), tenaga dalam, biofeedback, hipnoterapi, tenaga supranatural, tenaga metafisika, dan tenaga nur illahi. Pengobatan secara nonmedis ini bisa dilakukan meski sering tidak dapat dijelaskan secara ilmiah.

Beberapa pengobatan ini bisa dilakukan sendiri, misalnya pengobatan simpul energi atau EFT. Caranya ialah dengan mengetuk-ngetuk area-area tertentu di beberapa titik tubuh dengan jari telunjuk dan jari tengah sekaligus.

Pengobatan EFT adalah dengan mengetuk-ngetuk area tubuh di titik-titik ini.

Cara melakukan self healing

Menurut Prof. Marsudi, jika kita memiliki penyakit dalam tubuh kita, penyakit tersebut jangan dimusuhi. Setiap ada anggota tubuh yang terasa sakit, sentuhlah dan ajak bicara. Diakrabi agar kita juga lebih sensitif dan bisa mengontrol sakit tersebut.

Selain Prof. Marsudi, ada pula Kak Melina dari FFG Movement yang mengenalkan alat bernama Alpha Spin. Alat yang berasal dari Jerman ini berfungsi mengkonversi atau mengumpulkan energi positif yang ada di alam, untuk meminimalisir energi negatif yang ada di sekitar kita. Tentu kita tahu, bahwa alat elektronik yang memancarkan frekuensi seperti ponsel, microwave, dan sebagainya memiliki radiasi yang dalam jangka panjang bisa memperburuk kesehatan tubuh kita. Nah, alat Alpha Spin ini bisa melindungi kita dari radiasi tersebut.

Tim FFG pun melakukan demonstrasi tentang kekuatan alat ini. Empat alat FFG ditaruh di lantai membentuk segi empat. Lalu kita berdiri di antara segi empat tersebut. Tangan kita taruh ke belakang, dan telapak kita akan ditekan orang dari belakang. Ajaib! Jika ada alat Alpha Spin, maka kita tidak akan jatuh atau goyah karena tekanan tersebut. Tapi coba lakukan di luar alat tersebut, maka kita pasti akan goyah karena tangan kita ditekan. Alat ini bisa digunakan dimanapun juga, termasuk di dekatkan ke area tubuh yang sakit dan di atas kepala. Suka merendam kaki dengan air hangat jika kaki pegal-pegal? Nah, Alpha Spin juga bisa dicelupkan sejenak ke dalam air tersebut untuk meredakan nyeri. Jangan lupa, taruh juga sejumput garam ke dalam air karena menurut Kak Melina, garam bisa menghilangkan energi negatif.

Kak Melina mengenalkan alat Alpha Spin

adik-adik lagi berendam air hangat yang dicampur air garam. Sebelumnya air juga sudah dicelupkan Alpha Spin.

DSC_0062

Selain Prof. Marsudi dan Kak Melina, hadir juga Ibu Yulianis bersama timnya dari Healing Indonesia & International (HII) yang juga memberikan transfer energi ke adik-adik dampingan yang sakit.

Ibu Yulianis dan tim HII melakukan pengobata transfer energi kepada Okta

Kami senang sekali, karena pada KI kali ini banyak sekali yang antusias untuk mengobati adik-adik di RHVCF. Sedangkan kami para relawan bisa menambah ilmu untuk menjaga kesehatan dan menyembuhkan diri sendiri. Terima kasih banyak Prof Marsudi, Kak Melina dan tim FFG Movement, serta Ibu Yulianis dan tim HII.

BPR Harus Terapkan Teknologi dan Marketing Komunikasi

http://economy.okezone.com/read/2013/12/10/457/910155/bpr-harus-terapkan-teknologi-dan-marketing-komunikasi

JAKARTA – Bank Perkreditan Rakyat (BPR)  perlu mengembangkan aspek teknologi dan marketing komunikasi untuk bisa semakin besar seperti halnya bank umum.

Hal tersebut disampaikan oleh Rektor Perbanas Institute Marsudi Wahyu Kisworo dalam Acara Pemberian Anugrah BPR 2013, di CIMB Finansial Hall, Jakarta, Selasa (10/12/2013).

Marsudi mengatakan meski nasabah BPR ada di daerah dan kebanyakan nasabah kecil, namun menurutnya di era saat ini marketing komunication perlu dikembangkan  untuk memenuhi kebutuhan investor.

“Aspek marketing comunication, pasarnya biasanya yang ada di situ sehingga tak perlu ada marketing komunikasi seperti bank umum. Padahal dalam era sekarang itu tidak hanya diperlukan untuk pelanggan tapi juga untuk investor,” kata Marsudi.

Marsudi mengatakan BPR yang ada di Indonesia sebagian besar  belum menerapkan marketing komunication dengan baik. Hal tersebut terlihat dengan dari buku tahunannya secara profesional.

“Kita lihat buku tahunannya tidak profesional karena mereka mengaggap tak perlu nasabah saya baca buku yang canggih-canggih,” jelasnya.

Padahal menurutnya, di samping nasabah  para investor juga perlu membaca buku tahunan BPR yang bersangkutan.

Sementara terkait Teknologi, Marsudi mengatakan BPR juga harus mampu menerapkan teknologi sebagaimana halnya bank umum. Menurutnya selam ini karena berbasis di daerah, kebanyakan BPR merasa aspek IT tidak terlalu penting.

“Menurut saya lokal harus berbasis IT, sebab dengan IT BPR bisa bersaing dengan bank umum,” tutupnya.(rez) (wdi)

SDM PERBANKAN: RI Butuh 8.000 Bankir Tiap Tahun

http://finansial.bisnis.com/read/20140505/90/224968/sdm-perbankan-ri-butuh-8.000-bankir-tiap-tahun

Bisnis.com, JAKARTA—Perbankan nasional diperkirakan membutuhkan 8.000 bankir per tahun, tetapi perguruan tinggi di bidang ini hanya mampu memasok sekitar 1.000 lulusan setiap tahun.

Rektor Perbanas Institute Marsudi Wahyu Kisworo mengatakan sumber daya manusia di sektor perbankan saat ini diperkirakan mencapai 400.000 orang.

“Dengan asumsi jumlah yang pensiun atau tingkat mortalitas 2%, berarti sektor ini membutuhkan sekitar 8.000 bankir setiap tahun. Kami hanya mampu menghasilkan 1.000 bankir per tahun, sehingga kekurangannya sekitar 7.000 bankir diserap dari perguruan tinggi lain dari berbagai disiplin ilmu,” katanya kepada Bisnis, Sabtu (4/5/2014).

Menurut Marsudi, meskipun masih kekurangan SDM khusus di bidang perbankan dan keuangan, sektor tersebut saat ini masih bisa menutupinya dari dalam negeri.

Namun, dia khawatir sektor perbankan nasional akan diserbu oleh SDM asing, khususnya dari negara-negara Asean saat integrasi sektor perbankan dan keuangan regional pada 2020, jika gap tersebut tidak segera dibenahi.

“Indonesia merupakan negara Asean yang berpotensi besar untuk terus berkembang, termasuk di sektor perbankan, sehingga membutuhkan lebih banyak lagi SDM di bidang ini,” kata Marsudi yang juga guru besar bidang teknologi informasi.

Dia mengatakan Indonesia hanya akan menjadi pasar apabila SDM-nya tidak mampu bersaing di pasar tenaga kerja Asean. “Kekhawatiran saya adalah SDM kita akan kalah bersaing akibat pendidikan rakyat masih rendah,” ujarnya.

Saat ini, ungkap Marsudi, 83% rakyat Indonesia tidak mengenyam pendidikan tinggi, sementara lulusan sekolah menengah atas hanya 60% dan lulusan SD-SMP sekitar 80%.

Sedikitnya lulusan perguruan tinggi, tuturnya, menunjukkan kualitas angkatan kerja masih rendah sehingga akan sulit bersaing dengan SDM dari negara lain yang umumnya berpendidikan lebih tinggi.

“Ini ironi mengingat Indonesia termasuk negara yang menikmati bonus demografi, di mana tenaga kerja usia produktif lebih besar dibandingkan dengan usia nonproduktif. Kalau usia produktifnya tidak berkualitas, bisa menjadi bumerang bagi perekonomian,” ujarnya.

Oleh sebab itu, lanjut Marsudi, Perbanas Institute ikut berupaya menghasilkan SDM berkualitas tinggi, khususnya di bidang perbankan, keuangan dan informatika.

“Kami juga sudah mencanangkan Visi Perbanas Institute 2019 untuk menjadi 5 besar lembaga pendidikan perbankan terdepan di Asia pada 2019, 1 tahun menjelang integrasi sektor keuangan Asean,” ungkapnya.

Untuk mencapai visi tersebut, jelas Marsudi, Perbanas Institute menyiapkan infrastuktur dan suprastruktur, termasuk tenaga pengajar berstandar internasional. “Kami yakin bisa mencapai visi itu sehingga lulusan Perbanas Institute mampu bersaing dengan SDM asing, tidak hanya di negeri sendiri tetapi juga di negara lain.”

 

BPR Mulai Saingi Bank Umum

Rabu, 11 Des 2013 08:37 WIB – http://mdn.biz.id/n/67299/ – Dibaca: 117 kali
MedanBisnis – Jakarta . Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Indonesia sudah mulai bangkit dan terus berkembang menyamai bank-bank umum lainnya. BPR, saat ini sudah dapat diandalkan untuk menopang pergerakan ekonomi Indonesia.
Rektor Perbanas Institute, Marsudi Wahyu Kusworo, mengatakan BPR Indonesia sudah mulai mempersiapkan diri menjaga pasar Indonesia, dalam menghadapi tantangan perbankan ke depan

“Dari penjurian kemarin beberapa BPR kita lihat enggak kalah dari bank umum buku I, bagus termasuk dalam penggunaan teknologi, SDM. Sudah cukup kuat mereka,” kata Marsudi dalam acara Pemberian Anugrah BPR 2013 di Niaga Financial Hall Jakarta, Selasa (10/12).

Selain itu, Marsudi mengatakan kebangkitan tersebut juga terlihat dari mulai banyaknya pimpinan BPR yang mengikuti sertifikasi risk menagement yang selama ini dianggap tidak perlu.

“Jadi saya melihat BPR sudah mulai profesional mendekati bank-bank umum. Saya kira dengan penguatan itu mereka bisa menjadi pilar menjaga serbuan perbankan luar ke tingkat kabupaten kota,” tukas dia.

Terapkan Teknologi
Marsudi juga mengatakan, BPR perlu mengembangkan aspek teknologi dan marketing komunikasi untuk bisa semakin besar seperti halnya bank umum.
Meski nasabah BPR ada di daerah dan kebanyakan nasabah kecil, namun menurutnya di era saat ini marketing communication perlu dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan investor.

“Dalam era sekarang itu tidak hanya diperlukan untuk pelanggan tapi juga untuk investor,” kata Marsudi.

Marsudi mengatakan BPR yang ada di Indonesia sebagian besar belum menerapkan marketing communication dengan baik. Hal tersebut terlihat dengan dari buku tahunannya yang belum profesional.

“Kita lihat buku tahunannya tidak profesional karena mereka mengaggap tak perlu nasabah saya baca buku yang canggih-canggih,” jelasnya.

Sementara terkait teknologi, Marsudi mengatakan BPR juga harus mampu menerapkan teknologi sebagaimana halnya bank umum. Menurutnya selam ini karena berbasis di daerah, kebanyakan BPR merasa aspek IT tidak terlalu penting.
“Menurut saya lokal harus berbasis IT, sebab dengan IT BPR bisa bersaing dengan bank umum,” tutupnya. ( okz )